Rabu, 06 Februari 2013

Umm Aisha: Sebagai Muslim, Jangan Memuji dan Mengingat Allah Hanya di Saat Membutuhkan!

Saya dibaptis di Gereja Roma Katolik di Slovakia.
 
Saya juga menghadiri Perjamuan Kudus pertama, tetapi famili saya tidak pernah pergi ke gereja. Sekalipun demikian, saya besar sebagai seorang Kristen yang senantiasa percaya bahwa Tuhan itu ada dan berusaha mencari kebenaran.
 
Banyak sekali perkara dalam Katolik yang tidak masuk akal bagi saya, contohnya, isu dosa keturunan. Ketika saya berusia 10 tahun, saya mulai mengunjungi gereja Kristen. Saat mereka menjawab beberapa pertanyaan saya, termasuk dosa keturunan; mereka tidak menyentuh sedikitpun dalam Injil asli.Padahal di sana tertera anak-anak lahir tanpa dosa, dan tidak ada mediatoratau perantara antara kita dan Tuhan.
 
Dalam gereja ini saya banyak belajar bagaimana menghormati orang, menyembah Tuhan dan mempercayai Tuhan dalam semua hal. Berusaha untuk menjadi baik bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain; membantu mereka, dan senantiasa mempunyai hati yang bersih dan jujur serta hal-hal positif yang lain.
 
Segalanya berubah ketika saya menghabiskan waktu libur di Switzerland bersama dengan sebuah keluarga Muslim. Saya ke Switzerland dalam usaha untuk memperbaiki bahasa Jerman saya sebelum menjalani ujian sekolah.
 
Saya melihat hubungan baik dalam keluarga ini, sikap hormat sang anak terhadap kedua orang tuanya dan sebagainya. Ia merupakan satu cahaya dalam perjalanan saya menuju Islam.
 
Ketika saya kembali ke Slovakia dua bulan kemudian, saya meminjam sebuah Quran yang mempunyai terjemahan bahasa Inggris dari gereja yang saya hadiri. Saya membacanya, tetapi sayangnya saya tidak memahami banyak hal di sana.Untuk itu saya ikut kelas bahasa Inggris. Dengan itu, bahasa Inggris saya lebih baik. Saya berbincang dengan beberapa pelajar Libya yang beragama Islam. Kami berbincang mengenai Islam dan umat Islam. Tukar pikiran ini kemudian menjadi rutinitas kami untuk berbincang hal tersebut dalam kelas.
 
Saya memperolehi informasi tentang Islam lebih banyak dan mereka, sekaligus memperbaiki kemampuan bahasa Inggris mereka. Teman-teman muslim inilah yang mulai memberikan jawaban-jawaban masuk akal kepada semua pertanyaan saya.
 
Kemudian, seperti ada yang mengerakkan hati saya, menunjukkan saya jalan yang benar bahwa sudah tiba waktunya saya memeluk agama Islam sebagai jalan kehidupan saya. Lantas menjadikan saya salah seorang yang istimewa.
 
Saya ingin menjerit dan memberitahu seluruh dunia berkaitan perasaan saya saat itu dan demikian juga sehingga hari ini.
 
Saya tahu banyak saya harus pelajaritentang hal-hal yang baru, dan untungnya segala yang baru menarik hati saya. Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah membimbing saya dan memberikan peluang kepada saya untuk mempelajari berbagai agama sebelum memeluk Islam. Islam merupakan puncak perjalanan saya dalam mencari kebenaran.
 
Saya memeluk agama Islam pada bulan Desember 1999. Saya tidak punya masalah sedikitpun dalam melaksanakan ibadah puasa, shalat dan mengenakan pakaian Islami. Saya juga tidak punya masalah dalam memakai hijab. Saya hanya mencobanya sekali dan seterusnya saya mengenakan hijab. Alhamdulillah.
 
Memang saya bimbang dengan reaksi dari kedua orang tua saya dan juga dari teman-teman sekerja. Saya merasa pasti bahwa ayah dan ibu saya akan mengusir saya keluar dari rumah atau pimpinan saya akan memberhentikan saya dari kerja.
 
Sekalipun demikian, jauh di sudut hati, saya yakin bahwa apa saja yang akan berlaku, adalah kehendak Ilahi. Dan Dia saja yang akan memelihara saya karena hanya Dia saja yang mengetahui apa yang terbaik buat saya. Saya bersyukur untuk semuanya itu.
 
Alhamdulillah, kedua orang tua dan teman-teman di tempat saya bekerja menerima saya tanpa ada masalah. Adalah penting sekali untuk mempercayai Tuhan sepenuhnya karena Dia yang tahu apa yang berada di dalam diri kita, apa yang kita pikirkan dan sebanyak mana kita memohon dari-Nya dan mempercayai-Nya.
 
Dia saja yang senantiasa membantu kita.Karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Memeluk agama Islam bukanlah titik akhir perjalanan kita.Ini baru sebuah permulaan. Kita harus berusaha untuk mendapat informasi sebanyak mungkin dan melakukan yang terbaik untuk menjadi Muslim yang baik.
 
Kira-kira setahun selepas memeluk agama Islam, saya bertemu dengan suami saya. Kami saling memahami antara satu dengan lain, dia adalah seorang yang begitu sabar dan penuh pengertian. Saya belajar banyak berkaitan Islam darinya.
 
Dia juga mengajar saya untuk bagaimana mengamalkan Islam dalam dunia realita. Dia mengajar saya untuk menjadi sabar, menerima semua kesilapan saya, menjadi gembira karena perkara-perkara kecil, tidak bersedih karena masalah duniawi, dan saya bersyukur kepada Allah untuk semuanya.
 
Saya tidak pernah menyesal karena memilihnya sebagai suami saya, walaupun kami tidak begitu saling mengenal. Dia meminang saya pada hari ketiga saya memeluk agama Islam.
 
Kami hanya mengenal dari jauh. Tetapi saya tahu bahwa dia adalah orang yang benar untuk saya karena dapat merasakannya sama seperti ketika saya memeluk agama Islam.
 
Beberapa bulan selepas pernikahan kami, suami saya selesai belajar dan kami harus kembali ke rumah baru kami di Kuwait.
 
Beberapa minggu sebelum wisudanya, keluarga suami saya datang ke Slovakia dan kami menghabiskan waktu bersama. Mereka benar-benar orang yang baik dan mereka menerima saya dengan hati yang terbuka.
 
Di Kuwait saya menghadiri beberapa ceramah dari tokoh terkenal, seperti Yusuf Estes dari Amerika, yang diselenggarakan oleh Komite Presentasi Islam di Kuwait. Saya turut menghadiri kelas-kelas Islam di sana.
 
Saya belajar banyak berkaitan Islam di Kuwait dan lewat keluarga suami saya yang begitu membantu. Islam merupakan cara hidup untuk mereka. Kami sepakat untuk punya anak kemudian karena saya masih muda dan ingin belajar lebih tentang Islam terlebih dahulu. Saya juga ingin mengetahui lebih banyak mengenai kehidupan di Kuwait dan bahasa mereka.
 
Pada mulanya saya berpikir, tidak mungkin saya dapat mengelola hidup dengan seorang anak. Kini, saya tahu bahwa pandangan saya itu salah. Saya bisa menjalaninya, walaupun ia mengambil sedikit waktu. Tuhan mengaruniakan kami seorang anak perempuan bernama Aisha. Dia mengisi hidup kami, cinta kami dan cinta kami kepada Tuhan.
 
Saya senantiasa merasakan bahwa saya nanti akan punya anak. Bagaimanapun Tuhan lebih mengetahui kapan waktunya saya harus punya anak. Kami bersyukur kepada-Nya.
 
Sebagai kesimpulan, saya ingin katakan bahwa kita haruslah membenarkan Tuhan mengendalikan kehidupan kita untuk segala hal. Kita harus menjadi Muslim yang baik, memuji-Nya, mengingat-Nya dan bukan sekadar ketika kita memerlukan-Nya.
 
Semoga Tuhan memberikan kita kekuatan untuk terus berada dijalan yang benar. Amin! (IRIB Indonesia/onislam.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar