Rabu, 06 Februari 2013

Naseem Abdul Rahman: Ya, Saya Warga Australia, Tapi Juga Harus Shalat Jumat!

Nama saya Naseem Abdul Rahman. Saya dilahirkan di Australia. Kedua orang tua saya berasal dari Eropa. Saya menikah dengan seorang muslimah Lebanon sebulan selepas memeluk agama Islam.
 
Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen tetapi saya bukanlah seorang Kristen yang baik. Kedua orang tua saya juga menganggap diri mereka Kristen, tetapi kami hanya pergi ke gereja setahun sekali untuk merayakan Krismas.Itupun kira-kira setengah jam saja! Dan setelah mencapai usia 10 tahun, saya merasa aneh untuk menganggap diri saya seorang Kristen.
 
Pada usia 14 atau 15 tahun, saya mula mencari jawaban. Saya menjadi seorang yang spiritual, saya menyadari bahwa ada sesuatu dalam kehidupan ini, hidup ini mempunyai tujuan. Subhanallah, saya membaca buku berkaitan semua hal. Demi mendapatkan pengetahuan, saya membaca buku tentang Hinduisme, Buddhisme, dan banyak lagi. Pada masa itu, saya tidak pernah menemui Islam. Saya tidak pernah bertemu dengan seorang muslim.
 
Kontak pertama dengan muslim
 
Pertama kali saya berkenalan dengan Islam ialah lewat seorang saudara lelaki teman saya. Dia adalah seorang Muslim tetapi bukan seorang muslim yang mengamalkan ajaran Islam saat itu. Dia hanya pada dasarnya seorang muslim karena dia lahir dalam keluarga Islam. Tetapi dia tidak puasa, tidak shalat. Dia tidak melaksanakan ajaran Islam. Tetapi dia berbicacra mengenai Islam pada orang lain. Itulah pertama kali saya mempunyai hubungan dengan seorang muslim. Dari kata-katanya tentang beberapa hal mendasar Islam, saya mula ingin melihat lebih jauh tentang Islam.
 
Tapi semua ini memakan waktu yang lama.Kira-kira setahun, saya mula mencari apa saja tentang Islam dan membacanya. Begitu saya membaca tentang Islam, jiwa saya mula tertarik kepadanya dan saya merasa begitu bergairah untuk menjadi seorang muslim dan mempelajari Islam lebih banyak. Tetapi masih banyak lagi kesalahpahaman saya tentang agama ini yang belum dalam diperjelaskan karena saya tidak mengenali seorang muslim sejati.
 
Pada satu hari saya ke toko dan bertemu dengan seorang lelaki Australia, saya tidak tahu dia ini seorang muslim. Ada beberapa orang lelaki lain masuk dan dia mengucapkan "Assalamualaikum"  kepada mereka. Saya kembali mengatakan "Assalamualaikum" kepadanya. Dia bertanya kepada saya apakah saya seorang muslim. Saya katakan tidak. Dia mengatakan bahwa saya harus ke Pusat Islam Melbourne. Saya berasal dari Perth, tetapi kini saya berada di Melbourne selama dua tahun. Dia mengundang saya untuk ke pusat ini dan mendengarkan ceramah. Saya merasa takut. Saya tidak ingin pergi. Tapi ia memegang tangan saya seperti setan.
 
Tetapi dia tidak memberikan saya kesempatan untuk berpikir. Dia berkata, "Saya akan datang menjemputAnda pada jam 8 dan anda akan mengikuti saya. Saya akan menjemputAnda dan saya tidak akan memberikan anda kesempatan. Saya akan menemui Anda pada jam 8."
 
Pada jam 8 dia datang dan mengetuk pintu saya, maka saya tidak dapat mengatakan tidak. Dengan demikian saya ke pusat ini. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya menemui Muslim yang mengamalkan ajaran Islam. Saya dapat merasakan persaudaraan Islam dan disitu saya melakukan shalatMaghrib pertama saya, saya tidak merasa ragu sama sekali. Saya mengucapkan syahadah dan menjadi Muslim.
 
Saya tidak pernah melakukan perbuatan tidak baik dengan orang lain sebelum menjadi Muslim. Saya hanya melakukan kejahatan pada diri saya sendiri karena saya meninggalkan sekolah, keluyuran dan memakai narkotika serta perbuatan buruk lainnya. Tapi saya tidak pernah membahayakan orang lain, saya hanya membahayakan diri saya sendiri.
 
Reaksi Keluarga
 
Kedua orang tua saya menjadi gembira karena saya memeluk agama Islam. Mereka terkesan dengan perubahan yang terjadi setelah saya memeluk agama Islam. Mereka melihat betapa saya menjadi orang yang lebih baik. Mereka gembira, hanya apa yang membuat mereka bimbang adalah kesalahpahaman mereka terhadap Islam. Otak mereka dicuci dengan apa yang mereka lihat di televisi.
 
Kapan saja saya berbicara mengenai Islam, mereka akan berkata kepada saya "Anda melihat sendiri bagaimana Muslim melakukan perkara ini di sini dan di sana."
 
Sebenarnya saya berusaha untuk menjelaskan kepada mereka bahwa peristiwa itu tidak ada kaitannya dengan Islam. Sebaik apapun saya membuka mulut untuk bercakap tentang Islam, mereka tidak merasa tenang dan berkata, "Adalah baik ada seorang muslim, tetapi jangan coba untuk mengajak kami! Kami tidak ingin mengetahui tentangnya. Itu adalah untuk Anda dan itu adalah jalan yang Anda pilih. Anda tidak perlu bercakap dengan orang lain berkaitannya."
 
Alhamdulillah mereka masih menerima saya. Saya menghormati mereka sebelum ini dan kini saya menghormati mereka lebih baik dari dahulu. Karena perkara kedua setelah menyembah Allah Swt adalah menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Alhamdulillah hubungan kami bertambah baik.
 
Saya mempunyai dua saudara lelaki. Salah seorang dari mereka menerima perubahan agama saya. Dia merasa senang ketika saya bercakap tentang Islam walaupun dia punya pandangannya sendiri, tetapi dia lebih bersikap terbuka. Sayangnya seorang lagi saudara saya bersikap tertutup!
 
Dia berkata, "Saya tidak percaya Anda telah menjadi muslim".
 
Dia masih merasa kesal berkaitan hal itu.
 
Dia pernah berkesempatan untuk berkunjung ke Mesir dan beberapa negara lain. Tetapi dia berkata, "Saya melihat banyak hal yang terjadi di sana. Mereka melakukan ini dan itu".
 
Dia benar-benar mempunyai pandangan buruk tentang Muslim dari apa yang dia lihat. Saya berusaha untuk menjelaskan kepadanya bahwa mereka memanggil diri sebagai Muslim, tetapi anda haruslah dapat memisahkan Islam dari tindak tanduk orang-orang tersebut.
 
Sayangnya dia masih berpikiran tertutup. Dia tidak dapat menerima. Contohnya, dia bekerja dalam pembuatan plat beton untuk rumah. Sebelum memeluk agama Islam, saya pernah bekerja dengannya. Dan ketika saya pulang ke Perth, dia berkata, "Marilah bekerja dengan saya."
 
Saya menjawab, "OK, tetapi saya harus menunaikan shalat ketika makan siang."
 
Dia berkata, "Ok".
 
Kemudian saya menambah, "Saya harus menunaikan shalat Jumat secara berjemaah pada setiap hari Jumat yang memakan waktu satu jam atau satu jam setengah."
 
Dia terus berkata, "TIdak, Anda tidak bisa pergi."
 
Saya merasa sungguh kecewa dan berkata, "Saya senang sekali bekerja dengannya, tetapi jika Anda tidak membenarkan saya menunaikan shalat Jumat, maka saya tidak dapat bekerja dengannya."
 
Dia berkata, "Saya sungguh tidak faham mengapa Anda harus menunaikan shalat Jumat. Ini adalah Australia. Bukan sebuah negara Muslim. Anda harus bersikap seimbang. Anda tinggal di sini bukan di negara lain."
 
Saya berkata, "Ya, saya mungkin tinggal di Australia, tetapi merupakan keharusan bagi saya untuk menunaikan shalat Jumat". (IRIB Indonesia/onislam.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar