Senin, 12 Desember 2011

Fauzuddin Ahmad Overing, Pengkhotbah dan Tokoh Masyarakat Belanda

Tertarik Islam karena Bersih dari Mitos
Berawal dari membaca buku-buku tentang Islam, Fauzuddin Ahmad Overing, pengkhotbah dan tokoh masyarakat Belanda pun tertarik ajaran islam. Dari pencariannya, dia menyatakan, hanya Islam agama yang bebas dari mitologi. Berikut penuturannya.

ADALAH sulit untuk mengatakan bagaimana mula pertamanya saya tertarik dunia Timur. Hanya saya ingat, mula-mula saya belajar bahasa Arab pada waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, sewaktu umur saya belum lebih dari 12 tahun, 30 tahun yang lalu. Akan tetapi, karena tidak ada yang membantu, saya hanya mendapat kemajuan sedikit.

Dengan sendirinya pelajaran bahasa Arab itu telah menyebabkan saya dapat mengenal Islam. Saya membeli beberapa macam buku tentang itu walaupun semua itu ditulis oleh pengarang-pengarang Barat dan karenanya tidak selalu dapat diterima. Akan tetapi, saya yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Tuhan dan pengetahuan saya tentang itu terbatas, kalau tidak ada seseorang yang menunjuki saya kepadanya.


DARI BUKU
Buku yang sangat berpengaruh atas diri saya adalah "E.G. Browne's History of Persian Literature in Modern Times". Buku istimewa ini berisi bagian-bagian dari dua syair yang menentukan keimanan saya kepada Islam, yaitu "Tarji-Band" oleh Hatif Ishfahan dan "Haft Band" oleh Muhtashim Kashan.

Syair Hatif Ishfahan adalah yang kali pertama berpengaruh atas jiwa saya karena dia telah memberikan gambaran yang indah dari jiwa yang sedang kebingungan dalam perjuangannya mencari konsepsi hidup yang lebih tinggi. Dan, saat saya menemukan, tentunya dalam tingkat yang lebih rendah, perjuangan saya dalam meneliti hakikat kebenaran. Walaupun saya tidak dapat menerima semuanya, tapi dia telah mengajarkan kepada saya suatu hakikat besar dan tinggi, yaitu bahwa Allah itu hanya satu. Tidak ada yang lain dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.

Sesuai dengan keinginan ibu saya dan untuk melaksanakan niat saya sendiri, saya masuk ke sebuah sekolah khusus yang memberi pelajaran agama Kristen. Tapi, bukan karena saya percaya kepada prinsip-prinsipnya. Soalnya, hanyalah karena beberapa pengetahuan Kristen itu diperlukan sebagai pengetahuan umum.


BERSIH MITOLOGI
Di akhir pelajaran saya memberikan pernyataan bahwa saya percaya dan telah memeluk Islam. Tentu saja ini membuat situasi kacau. Keimanan saya pada usia belasan tahun itu masih bukan hasil pemikiran, tapi suatu keimanan yang tulen yang belum dipersenjatai dengan logika untuk melawan alam pikiran kebendaan secara Barat. Di sinilah kadang-kadang orang bertanya, mengapa orang itu memilih Islam? Dan, mengapa orang itu tidak memegang agama yang di-bawanya lahir (kalau ada)?

Jawabnya terdapat dalam pernyataan itu sendiri, sebab Islam menghendaki supaya orang sesuai dengan jiwanya, dengan alam, dengan Allah, yakni Islam itu mengandung penyerahan kepada kehendak Allah. Keindahan dan keagungan Alquran itu tidak nampak dalam terjemahannya ke dalam bahasa lain. Saya ingin menunjukkan di sini sebagian kalimat Alquran:

"Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rela dan disukai. Masuklah dalam lingkungan hamba-hamba-Ku dan masuklah dalam surga-Ku." (Al-Fajr 27 s.d. 30)

Karena itu saya berani mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang bersih dari mitologi, tidak seperti agama Kristen dan lain-lain agama. Coba perhatikan perbedaan antara kepercayaan Kristen yang mengatakan bahwa seorang anak itu bertanggung jawab atas dosa-dosa yang dilakukan oleh nenek-moyangnya dan firman Allah SWT dalam Alquran, "Dan tidaklah seseorang itu berbuat melainkan atas tanggung-jawabnya sendiri; dan seorang yang berdosa itu tidak memikul dosa orang lain." (Albaqarah 164)

Dan, firman Allah SWT, "Aku tidak menuntut/memerintahkan kepada seseorang melainkan seukuran kemampuannya". (Al-An'am: 152)

Sumber : Nurani 236, 30 Juni - 06 Juli 2006

http://myquran.org/forum/index.php/topic,853.150.html?PHPSESSID=ubdfi8jvk3cse15blo37b55890

Tidak ada komentar:

Posting Komentar