Jumat, 04 Februari 2011

Mengapa Aku Di Baptis?

"Mengapa sejak lahir diriku sudah di baptis?" Kalimat ini bagi seorang remaja bernama Irawan Budi Cahyono selalu menjadi kegelisahan dan ingin sekali mengetahui jawabannya, sementara Maryati sebagai ibu yang telah melahirkannya tak pernah memberikan jawaban kepastian.

Mengapa anak lelakinya yang berusia 17 tahun itu dibaptis? Allah SWT menciptakan manusia dimuka bumi penuh dengan variasi kehidupan, baik itu kisah dan cerita. Kehidupan yang layak, tercukupi dan jauh dari penderitaan, semua manusia memimpikan harapan itu. Tak terkecuali pada diri Budi, nama panggilan dari Irawan Budi Cahyono pria asal Lumajang, Jawa Timur.

Remaja ini bersama orang tuanya hidup selalu dalam perantauan dengan berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain hanya sekedar untuk mempertahankan hidup. Pada tahun 2000, mereka merantau ke Palembang, Sumatera Selatan. Namun di Palembang tidak begitu lama, karena tidak cocok dengan kondisi perantauan dan akhirnya Suripto, ayah dari Budi, bersama dengan keluarganya berpindah lagi ke Lumajang.

Di Lumajang, Suripto hanya berprofesi sebagai pengayuh becak, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa. Keluarga Suripto di karuniai dengan 4 orang anak. Hanya Budi satu-satunya anak yang beragama Kristen, sedangkan 3 anak yang lain beragama Islam. Entah mengapa Budi berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.

Menurut Budi, dahulu kedua orang tuanya beragama Islam, tapi ia tidak tahu apa sebab kedua orang tuanya pindah ke agama Kristen Protestan. Sejak kecil Budi telah terbiasa dengan ajaran-ajaran nasrani dan sering melakukan kebaktian dihari minggu. Rutinitas kegiatan tersebut dilakukannya hingga ia beranjak remaja.

Pada usia remaja, Budi tidak seriang dan seceria remaja seusianya, sebab dengan usia remajanya, Budi sudah bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga pada seorang majikan beragama Katholik. Majikan itulah yang membiayai kehidupan dan menyekolahkan Budi di SMPK Santo Paulus Lumajang, sebuah Sekolah Menengah milik yayasan Katholik.

Di sekolah itu Budi sering mendapatkan ajaran-ajaran agama Katholik. Pada saat jelas 3 SMP, majikannya menyuruhnya untuk memeluk agama Katholik. Akhirnya Budi juga masuk agama Katholik dan meninggalkan agama Kristen Protestan.

Memeluk agama Katholik, kata Budi, bukan merupakan pilihannya, sebab semenjak ia masuk di Sekolah Menengah itu, hati kecilnya selalu bertanya-tanya: "Tuhan itu satu, kenapa dalam ajaran Kristen Tuhan itu tiga yang disebut trinitas? Tuhan satu itu hanya pada ajaran Islam, yaitu Allah."

Itulah yang selalu menjadi pertanyaan ganjil yang sering muncul pada kebenaran hati seorang remaja yang polos dan lugu ini. "Selain itu juga, saya merenung, mengapa kalau orang muslim selalu ingat Tuhannya dengan sering melakukan shalat 5 waktu. Sedangkan orang Kristen hanya hari minggu saja dengan kebaktian dan habis kebaktian terus tidur," ungkapnya tertegun.

Pertanyaan dalam hatinya itulah yang selalu menyertai dirinya selama tiga tahun sekolah di SMPK Santo Paulus. Hingga akhirnya ada Ilham yang memberikan kerinduan Budi untuk memeluk agama Islam.

Tapi sebelum niat itu diwujudkannya, pada suatu hari ia meminta izin kepada ibundanya untuk memeluk agama Islam dan ibundanya pun tidak kecepatan. "Ibu saya berpesan jika memeluk agama Islam harus bersungguh-sungguh dan rajin melakukan ibadah," tuturnya.

Keseriusan memeluk agama Islam masih menjadi cita-citanya, ketika ia telah lulus dari SMPK Santo Paulus, ia nekat meninggalkan kampung halamannya dan berangkat ke Jakarta untuk bekerja.

Di daerah Jakarta, Budi tinggal di Bekasi bersama dengan saudaranya, disana ia tidak melanjutkan ke SMU karena ketiadaan biaya, ia lebih memilih bekerja dari pada sekolah.

Hingga akhirnya, ada sebuah konveksi tailor di Cilandak, Jakarta Selatan, menerimanya sebagai karyawan. Di tailor tersebut merupakan awal perjumpaannya dengan Redy Suwanto, seorang aktivis pemuda Muhammadiyah.

Redy selalu memperhatikan Budi selama bekerja di tailornya, seperti pada saat waktunya shalat, mengapa Budi tidak shalat? Pertanyaan Redy memang wajar, sebab Redy belum tahu kalau Budi non-muslim. Kemudian Redy mendekati Budi dan Budi menjelaskan kepadanya kalau ia bukanlah seorang muslim, tetapi ingin masuk Islam.

Mendengar penjelasan itu, hati Redy tergugah, sebagai seorang aktivis muslim, adalah kewajiban untuk menolong sesama umat manusia untuk mengarahkan jalan kebenaran dan jalan lurus yang diridhoi oleh Allah SWT.

Akhirnya, Redy mengajak Budi ke kantor MTDK-PP Muhammadiyah Menteng untuk meneruskan niat Budi untuk masuk Islam. Di kantor MTDK seperti biasanya mereka menemui pengasuh MTDK, Buya Risman Muchtar. Dalam kesempatan itu, Buya Risman memberikan tausiyah pada Budi, bahwa Allah telah memberikan rahmatNya berupa kebenaran kepada Budi untuk memilih Islam sebagai agamanya. "Saat Budi masuk Islam, maka Budi akan terlahir kembali, seperti bayi yang baru lahir. Maka tidak usah cemas dengan dosa-dosa yang pernah Budi lakukan sebelum masuk Islam. Sebab Allah akan selalu memberikan pengampunan pada umatNya." kata Buya Risman.

Selama memberikan tausiyah, Buya memberikan syarat-syarat untuk masuk Islam, diantaranya membaca 2 kalimat syahadat, dengan menyebut tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.
Selain itu melaksanakan rukun-rukun yang ada pada rukun Islam.

Tepat pukul 13.30 di Masjid At-Takwa Muhammadiyah setelah selesai menunaikan shalat zuhur, Budi dengan dibantu oleh Buya Risman dan disaksikan oleh para jamaah, dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam dan ia mengakui, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNya.

Setelah itu para jamaah memberikan selamat kepada Budi yang telah masuk ke dalam golongan kaum muslimin. "Selamat bergabung dijalan Allah, saudaraku." ucap salah seorang jamaah.

Dari swaramuslim.net dari Majalah Tabligh oleh Agus Yuliawan.

Dari cerita di atas, sepertinya Budi belum menemukan jawaban atas pertanyaannya 'kenapa dirinya harus di baptis?'

http://peperonity.com/go/sites/mview/muallaf/23872327

Tidak ada komentar:

Posting Komentar