Jumat, 11 November 2011

Masuk Islam Ketika Islam Dipojokkan

Runtuhnya menara kembar WTC ikut menghancurkan hati Elizabeth (43 tahun), warga Tampa, Florida, Amerika Serikat (AS). Maklumlah, delapan saudaranya meninggal dalam kejadian tersebut. Elizabeth kehilangan seorang paman dan tujuh kemenakan. Perempuan berpangkat sersan satu dan anggota Angkatan Udara itu lahir dari perkawinan campuran. Kakeknya adalah seorang Yahudi, dan neneknya pemeluk Katolik. Di tahun 1997, dia sempat mendatangi sinagog (tempat peribadatan Yahudi) di Tampa untuk meminta bantuan. Waktu itu, dia tergolong keluarga miskin. Namun karena tidak asli Yahudi, Elizabeth ditolak. Selama 8 tahun dia kemudian meninggalkan aktivitas beragama.

Peristiwa WTC menjadi titik masuknya untuk mengenal Islam. Tak lama setelah kejadian tersebut, aksi kriminal yang berbau kebencian terhadap Islam di Tampa, seperti ditulis harian St Petersburg Times, meningkat. Namun, hal itu malah membuat Elizabeth ingin mencari tahu tentang Islam. Dia melawan arus. Saat Islam dijadikan tertuduh, dan banyak orang menghindar, Elizabeth justru mendekatinya.

Dia mengaku sama sekali tidak percaya bahwa nama agama dibawa oleh 19 pembajak pesawat yang menabrak menara kembar itu. ''Saya tidak pernah membenci Islam. Saya tidak pernah membenci Muslim,'' ungkapnya. Kebenciannya terhadap pelaku penghancuran WTC itu sama besar dengan kebenciannya terhadap Jerman yang telah membantai Yahudi dalam peristiwa holocaust.

Kekagumannya terhadap Islam membesar setelah dia menyaksikan dinamika umat Islam di Maroko dalam perjalanan tiga hari pada 2005. Juni tahun itu juga dia menemui komunitas Muslim di Semenanjung Tampa. Dia lalu memeluk Islam. Janda dua anak inipun merasa nyaman dengan agama barunya. Nama Elizabeth kemudian digantinya menjadi Safia Al Kasaby.

Seperti Muslim lainnya, Safia mengalami banyak ujian akibat kampanye melawan teroris yang menjadikan umat Islam sebagai sasaran. Sebagian saudara menjauhinya. Tapi untunglah, kedua putri Safia tak pernah mempersoalkan agama baru ibunya. Natalia (10 tahun), putri kedua Safia menganggap bahwa agama ibunya itu menyejukkan.

Pembelaan juga diungkapkan Ada (18 tahun) putri pertama Safia. ''Saya katakan, ibu saya Muslim. Tapi, dia bukan teroris,'' ungkap Ada. Pernyataan Ada ini menunjukkan betapa di masyarakat AS, khususnya, telah berkembang pemahaman bahwa Islam identik dengan teroris. Karena itu, Ada perlu menegaskan bahwa meski memeluk Islam, ibunya bukan teroris.

Tak kurang penempelan label teroris pada Islam juga membuat Paus Benedictus XVI punya interpretasi keliru tentang Islam. Dalam kunjungan enam hari ke Jerman, dia menganggap bahwa berbagai kekerasan yang kini terjadi disebabkan oleh semangat umat Islam untuk mengobarkan perang agama. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa posisi Islam telah disudutkan oleh Barat dengan kemasan perang melawan terorisme.

Dalam kunjungannya itu Paus sempat memberikan kuliah teologi kepada staf pengajar dan mahasiswa University of Regensburg, Jerman, pada Selasa (12/9) lalu. Pada 1970-an, Joseph Ratzinger, nama sang Paus, juga mengajar teologi di universitas ini.

Dengan menggunakan term jihad dan perang suci, Paus mengutip kritik yang pernah dilontarkan Manuel II, Kaisar Byzantium Kristen yang berkuasa pada abad ke-14 terhadap Nabi Muhammad SAW. 'Tunjukkan padaku apa yang Muhammad bawa. Tentu apa yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis dan hal yang tak manusiawi,'' katanya.

Di antaranya, ujar Paus yang masih mengutip Manuel II, adalah perintah Muhammad SAW untuk menyebarkan keyakinannya melalui kekuatan pedang. ''Sang kaisar, menjelaskan secara detail alasan-alasan mengapa menyebarkan keyakinan atau iman melalui kekuatan pedang bukanlah hal yang masuk akal,'' katanya dalam kuliah yang berlangsung 32 menit itu. Untunglah, upaya pelurusan terhadap Islam terus terjadi. Kedok Barat untuk menggunakan isu teroris dalam memojokkan Islam pun pelan-pelan terbuka.

Bukan hanya kalangan Muslim yang berusaha membuka kedok itu. Tak kurang seorang profesor linguistik dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Noam Chomsky, ikut membukanya. Dia pernah mengatakan bahwa perang terhadap teroris yang dimaksudkan AS dan sekutunya, itu sebenarnya perang terhadap Islam. Chomsky bukanlah seorang Muslim, tapi dia termasuk kalangan yang ikut mencurigai agenda AS dan dunia Barat dalam gerakan antiterorisme itu.

Presiden Rumania, Traian Basescu, seperti dikutip Xinhua pun ikut terdorong untuk ikut meluruskan persepsi publik tentang Islam. ''Adalah kesalahan yang sangat besar untuk menganggap bahwa terorisme berasal dari Islam,'' tuturnya.

Pengakuan para disertir tentara AS yang dikirim ke Irak menambah kuat perlawanan terhadap persepsi Barat itu. Joshua Despain, mantan anggota Angkatan Udara AS mengatakan bahwa dia melihat warga Irak itu sama sekali bukanlah ancaman. Sehingga, pihaknya tak punya alasan sama sekali untuk menyerangnya.

Disertir lainnya, letnan satu Chris Harrison, mengungkapkan hal serupa. Dia katakan bahwa warga Irak adalah seperti manusia pada umumnya yang punya ketakutan dan cinta. Karena itu, dia memilih mundur dari kesatuannya. Pengakuan mereka ini jelas berbeda dengan pandangan Presiden AS, George W Bush, yang senantiasa menganggap Irak sebagai ancaman terorisme, tanpa dasar yang jelas. ( fer/afp/irf/RioL)

http://myquran.org/forum/index.php/topic,853.120.html?PHPSESSID=ubdfi8jvk3cse15blo37b55890

Tidak ada komentar:

Posting Komentar