Sabtu, 01 Oktober 2011

Awalnya Saya Belajar Al Quran untuk Serang Pendapat Teman

Saya adalah Mahasiswa pascasarjana Oxford University bidang Politik Timur Tengah yang memeluk Islam pada tahun 2003 lalu saat usiaku 21. Bagiku (Myriam Francois Cerrah), Alquran adalah puncak perenungan filosofis. Alquran pula yang kemudian mengantarkanku pada Islam.

Padahal, awalnya saya yang sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge membuka Alquran dengan "marah". Saya sering berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliah. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. Dan saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah.

Kemudian saya mulai aktif membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah, dengan alamat untuk seluruh umat manusia betul betul mencengangkan saya. "Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan,"

Dalam dunia yang diatur oleh relativisme, bagi saya hanya ada dua panduan: moral objektif dan landasan moralitas. "Sebagai seseorang yang selalu memiliki minat dalam filsafat, Alquran terasa seperti puncak dari semua renungan filosofis saya. Hal ini dikombinasikan Kant, Hume, Sartre dan Aristoteles. Entah bagaimana berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis mendalam yang diajukan selama berabad-abad tentang eksistensi manusia dan menjawab satu yang paling mendasar, "mengapa kita di sini?"

Tentang Nabi Muhammad, saya mengenalinya sebagai seorang pria yang ditugaskan dengan misi penting, seperti para pendahulunya, Musa, Isa, dan Ibrahim.

Makin lama saya belajar Alquran, makin besar keinginan saya untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi teman, berubah menjadi pengakuan, "Kamu benar tentang agamamu!"

Tak mau buang waktu, saya segera bersyahadat. "Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan,"

Bagi saya konversi keimanana bukan sebagai 'reaksi' terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. "Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang selalu saya pikirkan," seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialog tentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. "Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres."

Aku tidak segera mengidentifikasi dengan komunitas Muslim. Saya menemukan banyak hal aneh dan banyak sikap membingungkan.

Menurut pendapat saya, adalah tugas Muslim untuk membuat Islam tampil tidak sebagai agama yang asing. Dan kini, saya menjadi bagian untuk turut mengemban tugas itu. "Menjadi Muslim, tidak berarti kita kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk," (republika.co.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar