Minggu, 03 April 2011

Hidayah bisa datang dari mana saja dan Kapan saja

Hidayah bisa datang dari mana saja. Bagi Dia Richardson, hidayah datang saat ia menghadiri pernikahan sahabat temannya di sebuah masjid. Saat dia datang, dia mengenakan baju pesta terbaiknya, dengan potongan rok mini. "Kaki adalah aset terbaikku," ujarnya, saat sang teman, Shabazz Khadijah, mengingatkan untuk mengenakan rok panjang.

Ini adalah pertama kalinya ia berada di dalam sebuah masjid. Penghormatan dengan upacara sederhana dan doa-doa yang beresonansi di ruang berkubah, menggetarkan hatinya. Bahkan, anaknya yang biasanya tak bisa diam turut takzim menyimak. "Itu kali pertama aku ikut melafalkan - dan bisa - kalimat bismillahirrahmanirrahim," ujarnya.

Sejak itu, ia belajar tentang Islam. Namun, dia juga masih belum bisa lepas dari kehidupan lamanya. "Jika ada klub terbuka, aku pasti ada di sana," ia mengibaratkan. Ia mengakui kebenaran Islam, namun sulit untuk lepas dari masa lalunya.

Tragedi 11 September 2001 mengguncangnya, yang saat itu tengah giat-giatnya menimba ilmu Islam. Ia mulai membayangkan apa yang mungkin akan dialaminya jika menjadi pengikut Nabi Muhammad. Insiden anti-Muslim terjadi hampir di semua wilayah.

Namun, ia tersentuh menyaksikan kesabaran Shabazz. "Orang-orang menyuruhnya melepaskan jilbabnya agar dia menjadi aman, tapi dia tidak mau melakukannya," kata Richardson. "Saya melihat bagaimana disiplin dan ketenangan mereka," ujarnya. Belajar dari Shabazz, ia pun makin bertekad untuk menata hidupnya.

Hingga akhirnya, ia menyatakan ingin masuk Islam. Dia tak bisa menunggu lagi hingga keesokan harinya. Hari itu juga, saat ia masih mengenakan rok mini, Dia Rishardson minta dituntun bersyahadat. Setelah bersalin baju pinjaman, ia menyatakan diri menjadi Muslim.

***

Seperti banyak mualaf lainnya, Richardson mengalami krisis baru setelah menjadi Muslim. Ia harus kehilangan pekerjaannya dan diusir dari apartemennya di Acton karena para tetangganya tak ingin ada Muslim di sekitarnya. Namun ia sudah bertekad, tak akan mundur dan berbalik ke agama lamanya,

Salah satu dari beberapa titik terang dalam kehidupan Richardson adalah persahabatannya dengan Shabazz. Shabazz, yang menjalankan bisnis jasa penitipan anak di rumahnya di Los Angeles Tengah, telah setuju untuk mendidik Christopher, anaknya. Ia mencari pekerjaan lain, dan mendapatkannya.

Dia terharu saat menemukan buah hatinya mengkritiknya saat berdoa. Sang anak mengangkat tangannya dengan posisi tengadah dan berkata, "Beginilah cara berdoa, mama. Tangan kita seperti akan menerima berkah," ujarnya.

Richardson kini berjilbab, dan tiap hari tak pernah terlewat membaca terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris. Ia kini berkomitmen untuk shalat wajib dengan menggunakan bahasa Arab. Menghafal diakuinya sebagai salah satu kelemahannya.[Republika]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar