Minggu, 03 Oktober 2010

Melky Seddek (Muhammad Mulki Ibrahim)

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memperoleh hidayah-Ku, niscaya akan Kami tunjuki jalan-jalanKu" (QS. Al-Ankabuut: 69).

Kutipan ayat tersebut mungkin cocok disematkan kepada Muhammad Mulki Ibrahim atau Melky Seddek yang hijrah kembali ke Islam setelah mendengar adzan. Mendapatkan siksa, hingga melarikan diri dari Sulawesi menuju Bandung merupakan perjuangannya untuk mempertahankan keyakinannya akan Islam.

Dilahirkan di Kota Palu Sulawesi Tengah, 20 tahun lalu dengan nama baptis Melky Seddek dalam keluarga Toraja Kristen yang taat dimana dalam tradisi, keluarga Toraja harus menjadi misionaris. Orang tuanya pun berharap Melky menjadi misionaris. Sehingga sejak kecil dirinya aktif di kegiatan gereja, bahkan ketika SMP dan SMA dirinya menjadi ketua PPK (Persatuan Pelajar Kristen) Palu.

Suara Yang Menggetarkan

Saat itu hari Jum’at, seperti biasa Melki pun memberikan khutbah atau kebaktian ke sekolah-sekolah. Saat itu SMA 3 Palu merupakan tujuannya, bersama seorang teman Melki pun harus melintasi sebuah masjid untuk sampai ke sekolah tersebut. Adzan pun berkumandang hingga mengantarkan Melki sampai ke tujuan.

Entah mengapa hatinya bergetar mendengar suara adzan. Bingung dan kaget pun menjadi satu. Dia ingat peristiwa itu terjadi Desember 2004 menjelang natal, “Anehnya sebelum berkhutbah, ada pergumulan hebat dalam hati ketika mendengar suara adzan. Kenapa dan ada apa ini?” Katanya mengenang.

Suara adzan yang didengarnya ternyata membawa keraguan terhadap keyakinannya terlebih ketika membaca Alkitab. Perenungan pun dilakukan, namun tetap tidak ada jawaban yang memuaskan dirinya.

“Hampir sama dengan kebanyakan muallaf lain yang hijrah ke Islam karena banyak menemukan kontradiksi dalam Alkitab. Saya pun demikian, konsep ketuhanan yang membuat saya ragu terhadap Kristen.” Tegasnya.

Melky pun tertarik dengan Islam, Ia ingat saat itu Ramadhan 2005 dirinya melihat Masjid penuh dengan jamaah. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Pemuda ini pun menonton acara Tafsir Al Misbahnya Quraish Shihab ketika tidak ada anggota keluarga lainnya di rumah. Selain Al Qur’an ternyata Melky tertarik shalat dirinya pun kemudian membeli buku kecil tentang Risalah Shalat.

“Saya pun mulai mempraktikan gerakan shalat dan hal itu saya lakukan setiap tengah malam di kolong tempat tidur. Entah kenapa begitu mudah untuk bangun malam. Ada ketenangan dan kedamaian seusai shalat, meskipun saya tidak tahu apakah wudhunya saat itu sah atau tidak” katanya sambil tersenyum.

Agar lebih khusyuk, Melky pun pindah tempat shalat. Kamar kosong di ruang tengah menjadi pilihannya untuk beribadah. Menggabungkan shalat dalam satu waktu seringkali dilakukan, bahkan terkadang juga sehari shalat sehari tidak karena saat itu dirinya belum bersyahadat di hadapan manusia.

Melarikan diri ke Bandung

Seperti biasa Melky melaksanakan shalat, ternyata sang Bapak tahu kemudian mendobrak pintu ruangan yang dikuncinya. “Malam itulah awal dari pertengkaran saya dengan bapak. Jika sebelumnya hanya pertengkaran mulut, penyiksaan fisik pun mulai dilakukan. Bahkan bapak hampir pernah melempari pisau agar saya tidak melaksanakan shalat dan bisa aktif kembali ke gereja”

Intimidasi dan siksaan terus dilakukan sang bapak, pilihan yang berat pun harus dipilihnya ketika sang bapak mulai mengancam untuk telanjang dan menyiksa dirinya sendiri, namun Melky tetap yakin akan Islam. Hingga suatu malam dirinya mencoba melaksanakan shalat kembali dan mengultimatum Allah “ Ya Allah seandainya Engkau benar-benar Tuhan maka keluarkan aku dari tempat ini dan jika tidak maka aku akan kembali kepada ajaran semula”

Allah-pun mengabulkan doanya melalui Uriap Riansyah, seorang teman dari Bali yang datang dan memberikan uang Rp 500 ribu, entah karena apa. Dengan uang tersebut Melki pun berniat pergi dari Sulawesi, rencana ini disampaikan ke ibunya, meskipun berat melepaskan anaknya sang ibu akhirnya merelakan dan mengantarkannya ke Pelabuhan Pantoloan.

Bandung pun menjadi tujuannya, kenapa Bandung dirinya pun menjawab “Karena sejak umur 9 tahun saya adalah atlit nasional karate perwakilan Sulawesi Tengah dan ketika SMA saya mengikuti kejuaraan nasional karateka di UPI, jadi pernah ada gambaran bagaimana Bandung itu”.

Pengalengan menjadi tujuannya karena ada keluarga jauh sang ibu yang berada di wilayah tersebut. Di sinilah Melky melakukan silaturrahim, hingga akhirnya bertemu dengan Ustad Mimid (Ketua MUI Pengalengan). Mulki pun menceritakan semua kisah hidupnya. Mendengar Mulki belum bersyahadat, Ustad Mimid pun mengajaknya ke KUA Pengalengan dan bertemu dengan Pak Ahmad Rozali. Disaksikan Ustad Nurdin (alm), Ustad Mimid dan Pak Ahmad Rozali Mulki pun mengucapkan syahadat.

Kehidupan dan Harapan ke Depan

Muhammad Mulki Ibrahim itulah nama baru yang disandangnya, nama pemberian ketiga orang saksi tersebut dengan harapan dirinya menjadi seorang hamba yang memiliki sifat seperti Nabi Muhammad, ingat akan masa lalunya ketika berjuang membenci Islam serta terus bersemangat seperti Nabi Ibrahim berjuang mencari Rabb-Nya.

Setelah silaturrahim ke KUA, agar lebih afdhol Ustad Mimid pun mengajaknya ke Masjid Agung Pengalengan untuk bersyahadat kembali. Akhirnya Muhammad Mulki Ibrahim bersyahadat kembali disaksikan ratusan orang yang bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jum’at. Desember 2006 peristiwa itu terjadi.

Singkat cerita dirinya pun berkenalan dengan Ustad Asep Yaya untuk mengkaji Islam lebih jauh, dari sinilah pemahamannya tentang Islam semakin bertambah. Apalagi dirinya kemudian diminta untuk melanjutkan ke Ponpes Ngruki di Solo. Melky pun kembali ke Pengalengan, mempersiapkan kebutuhannya untuk mondok. Ternyata Allah punya skenario lain, Orang tuanya datang ke Pengalengan dan meminta dirinya untuk tidak mondok di Ngruki, apalagi saat itu ramai kasus terorisme.

“ Akhirnya saya dan orang tua membuat perjanjian, mereka tetap memperbolehkan saya tinggal di Bandung asalkan tidak melanjutkan ke Ngruki. Satu hal lagi mereka akan membiayai S2 namun tidak boleh mengambil jurusan yang berkaitan dengan Islam. Untuk poin yang kedua entahlah, bagaimana nanti”. Ujarnya.

Karena telah jatuh cinta terhadap Al Qur’an dirinya pun mengambil jurusan Tafsir Hadist di UIN Sunan Gunung Djati. Mahasiswa angkatan 2007 ini kini mengisi hari-harinya dengan aktivitas dakwah, mewujudkan cita-citanya memberikan pencerahan kepada umat. Namun ada hal yang masih menyisakan kesedihan yaitu keyakinan keluarganya.

“ Alhamdulillah ibu sudah mengikuti jejak saya, namun bapak, kakak dan adik saya masih dengan keyakinan semula. Saya berharap Allah memberikan hidayah bagi mereka semua dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang indah ” harapnya

http://myquran.com/forum/showthread.php/595-Kisah2-Mualaf-ed.-II/page2

2 komentar: