Jumat, 28 Desember 2012

Aisha Uddin: Orang Boleh Tak Senang, Tapi Saya Bangga Bisa Menjadi Muslim

Kulitnya putih pucat, matanya biru terang. Sebelum berjilbab, banyak orang terkaget-kaget ia bisa melantunkan Al Fatihah dengan merdu. Memang, tak sefasih Sameeah Karim, sahabatnya. Namun, bagi seorang kulit putih seperti dirinya, sungguh luar biasa.

Sudah beberapa tahun ini, Aisha memeluk Islam. Gadis 22 tahun ini juga sudah mulai berjilbab, bahkan lebih gemar mengenakan abaya. "Sebelum ini, jeans dan hoodies adalah busana saya sehari-hari...juga make up tebal," ia terkekeh menceritakan.

Banyak yang memprotes perubahannya, tapi ia tersenyum saja menanggapinya. "Bagi saya sekarang, jelas itu merupakan perubahan dramatis, tapi saya senang dengan apa yang saya buat, karena sekarang saya tidak harus membuktikan diri untuk menjadi orang lain di luar saya. Inilah saya," ujarnya.

Aisyah menaruh minat pada agama sejak menginjak sekolah menengah. Sejak itu, ia mulai diam-diam mengunjungi masjid setempat untuk belajar agama yang semula dianggap 'aneh' olehnya.

"Islam menarik perhatian saya dan saya ingin tahu lebih jauh ke dalamnya - orang-orangnya juga budayanya - dan saya terus belajar dan belajar," ujarnya.

Melanjutkan pendidikan ke Birmingham, ia merasa bak di surga. "Saya tak perlu lagi sembunyi-sembunyi belajar, dan di sekeliling saya banyak yang Muslim," katanya.

Dia mengaku menghabiskan bertahun-tahun belajar banyak tentang Islam sebelum sepenuhnya yakin dan bersyahadat. Setelah bisa mempraktikkan shalat lima waktu dengan benar, ia mulai belajar berjilbab.

"Hidup berubah secara dramatis setelah itu," akunya.

Ia bukan sedang bercerita tentang penampilannya, namun apa yang ada dalam dirinya. "Dulu saya adalah seorang pemberontak dan selalu mendapatkan masalah di rumah. Lalu ketika saya menjadi Muslim, saya menjadiagak tenang," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga lebih senang tinggal di rumah, ketimbang dugem di luar rumah. "Mempelajari sesuatu dari internet, atau membaca buku membuat saya lebih bahagia...Kini saya bangga punya identitas tertentu," akunya.(IRIB/republika)

Emma Taylor, Si Dugem Yang Kini Memeluk Islam

Ada sekitar 100 ribu mualaf di Inggris Raya yang kebanyakan adalah kaum wanita kulit putih. Berdasarkan studi organisasi Faith Matters, jumlah tersebut meningkat dibanding data 2001 sebanyak 60 ribu mualaf.

Studi Universitas Swansea menemukan sebanyak 5,200 penduduk Inggris tahun lalu telah memeluk Islam. Survei terhadap 122 mualaf tahun lalu menunjukkan sebanyak 56 persen mualaf merupakan warga Inggris berkulit putih. Sebanyak 62 persennya adalah kaum wanita.

Seperti dikutip thesun.co.uk, Samantha Wostear dan Dulcie Pearce mewawancarai tiga wanita mualaf. Emma Taylor, wanita usia 30 tahun asal Reading, adalah salah satunya. Jauh sebelum menjadi mualaf, Emma adalah gadis dugem yang menghabiskan waktu dengan berpesta.

''Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Katolik. Tapi, setelah lulus sekolah, pesta dan gaya hidup WAG menjadi agamaku,'' kata Emma. ''Saya suka membeli baju-baju seksi dan dugem bersama teman-temanku.''

Bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah perusahaan, penghasilan Emma hanya sebesar 16 ribu poundsterling. Namun, Emma tahun lalu mulai menekan pengeluarannya dengan hidup berbagi rumah. Emma pun bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Hidayah lewat Shalat

Pada Januari tahun lalu, Emma mulai berpikir tentang kehidupannya yang hampa. Dia selalu bangun pagi dengan kondisi belum pulih dari hasil mabuk semalam. Emma tidak pernah memiliki hubungan yang serius dan panjang dengan lelaki. Dia juga tidak memiliki sebuah ambisi dalam kehidupannya.

Emma dalam kondisi terpuruk ketika teman Muslimnya suatu malam datang mengundangnya untuk makan malam. Susan, nama sang teman tersebut, lebih stabil dan berisi dibandingkan dengan teman-teman Emma lainnya.

''Saya selalu meminta nasehat kepada Susan. Padahal, dia lebih muda dua tahun dari diriku,'' kata Emma. ''Dia masuk Islam tiga tahun lalu.''

Ketika Emma masuk ke kamar Susan, Emma melihat Susan sedang shalat. ''Saya memerhatikannya dan dia terlihat begitu damai dengan kehidupannya,'' katanya.

Sejak saat itu, Emma mulai tertarik untuk mengetahui Islam lebih dalam. Emma sering bertanya kepada Susan tentang Islam. ''Tapi, Susan tidak mengguruiku. Dia justru menyarankan aku untuk mencari informasi tentang Islam lewat internet dan memintaku pergi ke masjid,'' ujarnya.

Perasaan Yang Aneh

Pada 2 Maret, Emma pergi ke masjid bersama Susan. ''Dia mengatakan bahwa saya harus memakai pakaian sopan. Dia memberiku jilbab,'' kata Emma. ''Itulah hari yang mengubah kehidupanku.''

Duduk bersama dengan muslimah lainnya, Emma mengaku dirinya saat itu merasakan suatu perasaan yang aneh. Dia merasakan sesuatu yang melegakan hatinya. Emma merasa permasalahannya selama ini langsung hilang.

Emma menyukai pertemuan yang dipisahkan antara kaum wanita dan pria. Dia menikmati rasa persaudaraan dalam pertemuan tersebut. ''Untuk pertama kalinya, saya merasakan sisi spiritualku hidup,'' katanya.

Masa Lalu

Dengan bantuan teman, Emma akhirnya memeluk Islam. Itu merupakan perubahan radikal dalam kehidupannya. Teman-temannya menilai Emma sudah gila.

Namun, Emma mencoba bertahan menghadapi orang-orang yang tidak menyukai keputusannya untuk masuk Islam. Dia kini memiliki komunitas Muslin sebagai teman baru yang berasal dari berbagai ras dan sangat terbuka.

''Saya sekarang shalat lima waktu sehari, membaca Alquran, pergi ke masjid dan disambut hangat oleh setiap orang. Banyak wanita kulit putih seumuranku,'' katanya.

Dugem dan pesta kini menjadi masa lalu Emma. Dia mengaku sudah tidak minum-minum lagi dalam enam bulan terakhir. Emma teringat ketika dia menyelinap-nyelinap untuk minum minuman keras pertama kali pada usia 13 tahun.

Emma kini mengenakan pakain abaya dan jilbab tiap kali pergi keluar rumah. Dia juga tidak lagi makan bagi. ''Saya katakan kepada teman-temanku bahwa kesukaanku pada daging babi kini telah digantikan dengan kecintaanku terhadap agama baruku.''(IRIB/Republika)

Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket

Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia. Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk, rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.

Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket Amerika Serikat (NBA Most Valuable Player ). Predikat itu diraihnya sebanyak enam kali.

Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya, ia mendapat julukan 'Raja Bola Basket'. Dan berkat prestasinya ini, 19 kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.

Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus, Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA, mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat itu.

Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.

Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.

Masuk Islam
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.

Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini, adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.

Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik ( Most Valuable Player , MPV) dan 'Rookie of the Year' (Pendatang baru terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam. Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.

Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.

Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah menjadi Muslim.

Nama budak
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. ''Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni,'' terangnya.


Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.

Namun, Hamaas berkata, ''Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.'' Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem, juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.
''Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi, Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip,'' terangnya.

Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ia tepis. ''Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.''
Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.


Rajin Belajar
Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat meluangkan waktu untuk mendalami Islam. ''Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,'' ujarnya.

Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. ''Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu,'' paparnya.
Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.

''Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu.'' Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah haji.

Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya, Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.

''Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas apa yang telah saya lakukan,'' tukasnya.

Antara Akting, Menulis, dan Melatih
Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya. Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film Game of Death yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot Roger Murdock dalam film komedi Airplane! .

Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi Full House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs , dan Emergency! . Dia juga muncul di film televisi Stepen King's The Stand dan Slam Dunk Ernest . Di serial Full House , ia harus beradu akting dengan anaknya sendiri, Adam.

Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan menjadi co-producer eksekutif dari film televisi The Vernon Johns Story . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara The Colbert Report . Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam Nazi Gold .

Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr, Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya tujuh buku yang kesemuanya best seller .

Buku-buku hasil karyanya, antara lain Giant Steps yang ditulisnya bersama Peter Knobler (1987), Kareem (1990), Selected from Giant Steps (1999), Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American Achievement yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996), A Season on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches yang ditulisnya bersama Stephen Singular (2000), Brothers in Arms: The Epic Story of the 761st Tank Battalion dan WWII's Forgotten Heroes yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan On the Shoulders of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance yang ditulisnya bersama Raymond Obstfeld (2007).

Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.

Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum. Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan kontribusi 14 poin dan delapan rebound per game .

Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. 

dia/sya/taqI(IRIB/mualafmualaf)

Masuk Islam karena Iklan Bus

Melalui iklan tentang Islam bertema "Menyemai Damai" , banyak warga Chicago yang memeluk Islam. Bulan ini saja, tak kurang dari empat warga Chicago memeluk Islam.

Selama sepuluh tahun belakangan ini, Leslie C Toole telah mempertimbangkan untuk memeluk Islam. Bahkan ketika guru asalChicago ini melihat iklan tersebut sebagai suatu hal yang sederhana namun begitu menonjol terlihat pada bus umum, dia menduga saat yang tepat telah datang. ''Saya tidak pernah benar-benar berkomitmen dan ketika saya melihat tanda tersebut saya menduga itulah tanda terakhir untuk menyempurnakan usaha saya,'' ujar Toole, 45 tahun.

Toole telah menemukan Islam secara tidak sengaja di sebuah pojokan jalan sepuluh tahun yang lalu ketika seorang lelaki memberinya sebuah pamplet yang mengatakan dia akan menemukan pencerahan di dalamnya. ''Saya terus membaca dan membacanya dan saya ingin meyakinkan diri saya memahami terlibat dengan apa?'' ungkapnya polos.

Ia bercerita tentang hal yang mencerahkan itu sebulan yang lalu. Saat itu, melintas di hadapannya Bus Otoritas Transit Chicago. Tanda tersebut menarik perhatiannya dan pada akhirnya dia memutar nomor di iklan raksasa tersebut. ''Bagaimana untuk menjadi anggota Islam adalah pertanyaan utama saya,'' papar Toole yang resmi memeluk Islam 29 September lalu.

Ceriteranya mirip dengan seorang Chicago lain yang juga menerima Islam bulan ini. Dia juga terinspirasi iklan kampanye Islam Menyemai Damai di suatu area di Chicago yang disponsori Islam Circle of North America (ICNA).

ICNA tak main-main untuk mengajak masuk Islam bagi warga Amerika lainnya. Dana yang mereka gelontorkan pun cukup besar yakni 30.900 dolar AS atau senilai 309 juta (dengan kurs 1 dolar Rp 10 ribu). Dana sebesar itu untuk pembuat pamplet yang ditempelkan di 25 bus yagn melintasi Chicago. Iklan tersebut mengarahkan orang untuk menghubungi saluran-bebas biaya Islam, 800.662, dan sebuah situs internet yang didirikan untuk membantu mereka yang mencari jawaban tentang Islam.

Awalnya kampanye tersebut dipasang untuk masa satu bulan yakni mulai 19 September hingga 20 Oktober. Namun, mengingat tingginya animo dan antusias masyarakat terhadap iklan tersebut, akhirnya iklan berjalan dalam bus tersebut diperpanjang hingga 23 November. Saluran telpon mereka pun telah kebanjiran penelpon. Ribuan penelpon memburu informasi melalui saluran tersebut, bahkan jika ditambahkan dengan internet, tak kurang dari 300 ribu orang yang berburu informasi tentang Islam.

Ketika orang-orang Chicago yang penasaran memutar nomor tersebut, MenggapaiDamai (GainPeace) juga memberi mereka salinan Al-Qur'an berbahasa Inggris, majalah Message tentang Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana brosur dan buku-buku yang berkenaan dengan Islam.

Para pengkampanye mengatakan bahwa tujuan kampanye iklan bus adalah untuk menemukan sebuah cara novel untuk mengendalikan orang terhadap informasi tentang Islam. ''Topik iklan adalah Islam: pedoman hidup dengan nama-nama nabi yang berbeda-beda,'' ujar Saabeel Ahmed, Direktur GainPeace kepada IOL.

Ahmed menuturkan, dengan saluran-bebas bea dan situs internet, memungkin bagi seseorang untuk memperoleh kesempatan mengetahui lebih jauh tentang Islam, dengan peluang menelpon orang-orang Muslim yang berpengetahuan luas (alim) untuk meluruskan miskonsepsi, bias dari rasa takut. ''Kami ingin menciptakan sebuah saluran melalui situs internet sehingga orang bisa berinteraksi dengan kami dan bekerja secara komunal, untuk saling mengenal lebih baik lagi,'' ujar Ahmed.

Toole menilai iklan yang dibesut ICNA cukup brillian. ''Iklan itu sangat sederhana, namun sempurna seolah-olah mengatakan, ''Anda puunya pertanyaan? Raihlah jawabannya'' adalah sebuah cara brilian untuk menarik perhatian orang,'' tandas Toole seraya menambahkan idenya sangat sederhana, namun sangat menyenangkan. ''Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.''

ICNA, sebuah organisasi berbasis akar rumput New York yang memiliki 22 cabang di Amerika Serikat, juga mengorganisasi kampanye serupa di Seattle dan New York. Di Big Apple, 1.000 iklan melaju di mobil-mobil subway di kota itu. Isinya menggelitik; menggambarkan pertanyaan dengan format visual yang mungkin dimiliki orang tentang Islam dan jawabannya.

Karena kampanye sukses, kota-kota lain di Amerika Serikat dan Kanada telah meminta kelompok ini untuk memulai proyek serupa. Sebuah survei Amerika Serikat baru-baru ini mengungkapkan orang-orang Amerika hanya sedikit mengetahui tentang Islam. Iklan itu bak setetes air di padang gersang.

Peranan GainPeace tidak hanya berakhir dengan iklan dan pendidikan Islam saja. Ketika seseorang memeluk Islam, kelompok ini mengangkat seorang "kakak" yang menjadi seorang mentor bagi Muallaf, dengan memberikan informasi, dukungan, dan nasehat. "Mentor tersebut laksana malaikat pelindung,'' jelas Ahmed, Direktur GainPeace. Sang mentor dan si Muallaf bertatap muka dan berhubungan dengan surat dan telepon. Toole, yang telah memilih Ilyas sebagai nama baru Muslimnya, sangat menyenangi mentornya. ''Dia sangat menolong sekali. Dia telah memberi saya banyak sekali buku agar saya melangkah maju.''

GainPeace juga menyajikan paket syahadat bagi para Muallaf, yang mencakup: sebuah DVD tuntunan shalat, petunjuk singkat membaca Alquran, dan beragam brosur tentang Islam. Metreka juga menawarkan kelas online seminggu sekali bagi para Muallaf. Dan kelas seperti inilah yang selalu dinanti Ilyas untuk diikuti. ''Saya bisa belajar segala sesuatu tentang gaya hidup orang Muslim hingga praktik shalat dan bahasa Arab,'' ujarnya bangga.

Ilyas mengatakan bahwa semakin banyak dia mengetahui tentang agama Islam, semakin yakinlah dia telah membuat keputusan yang benar. ''Ini benar-benar sempurna bagi saya. Sulit sekali dijelaskan karena ketika Anda mengetahui sesuatu itu benar, ini benar-benar merupakan perasaan yang begitu mendalam di dalam hati Anda."(IRIB/Iniagamaku)

A Sen Semula Melihat Islam Bukanlah Sebuah Agama

Tidak seperti makhluk cipta-Nya yang lain, manusia dibekali akal dan budi untuk berpikir. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS, dengan segenap akal dan budinya, beliau mencari tahu siapa dirinya, dan pencipta-Nya. Dari proses berpikir itu, sang pencipta menuntun Nabi Ibrahim AS kepada satu jawaban, yakni Allah SWT, Dzat Maha Besar yang mengatur segalanya.

Layaknya Ibrahim mencari Tuhannya, begitu pula yang dialami Ahmad Sugiarto alias A Sen sebelum memutuskan memeluk Islam. sesuatunya. Dari rentetan proses yang dialami, A Sen menemukan jalan pada Allah SWT dan Islam. "Hanya ada satu Dzat yang mengatur alam semesta ini. Yakni Allah SWT," papar A Sen kepada Republika.co.id, saat menghadiri syukuran 20 tahun Yayasan Haji Karim Oei, Ahad, (10/4).

Saat masih menganut agama lamanya, A Sen melihat Islam bukanlah sebuah agama. Karena waktu itu, menurut logika sederhana A Sen, kebanyakan agama yang dia tahu selalu menggunakan medium saat beribadah. Sementara ketika melihat umat Islam baik dalam keseharian ataupun melalui media massa, ia tidak melihat Islam menggunakan medium berupa patung atau simbol lain saat beribadah. "Semua yang di depan itu (medium patung dan simbol lainnya) disembah. Tapi Islam, saya pikir, "Apa yang disembah, tak ada. Maka ini bukan agama", demikian pandangan saya waktu belum mengenal Islam," ungkap A Sen mengisahkan.

Pemikiran A Sen tentang Islam secara perlahan terbentuk melalui buku-buku Islam dan ilmu pengetahuan. A Sen yang kritis, bertanya-tanya soal bagaimana alam semesta ini terbangun.

Menurut pemahamannya, segala sesuatu tidak tercipta dengan sendirinya. Sebagai contoh saja, kata A Sen, bumi ini ada kehidupan lantaran keberadaan atmosfer. Dari atmosfer, air laut yang diserap matahari berubah menjadi awan lalu jadilah hujan membasahi bumi. Tanpa atmosfer, air laut bakalan kering, tidak akan ada kehidupan seperti yang terjadi di planet-planet lain. "Yang jadi pertanyaan, air itu tak pernah kering. Rupaya ada yang menahan yaitu atmosfer, lalu kenapa bisa begitu, jadi semua itu perputar, berarti ini ada yang mengatur. Saya saat itu cuma berpikir siapa yang mengatur? Waktu itu saya belum mengenal Allah, " papar A Sen.

Alam, menjadi media A Sen merenung. Pertanyaan-pertanyaan kritis A Sen segera mengemuka. Misalnya saja, mengapa pohon cabai menghasilkan buah cabai yang pedas. Lalu mengapa tebu menghasilkan rasa manis. "Kok bisa begitu? Padahal sama-sama diberikan pupuk dan air yang sama. Tidak mungkin diberi gula atau bahan pecampur lain. Lalu rasa manis dan pedas itu dari mana?"

Lalu, Asen merujuk pada dirinya sendiri. Pertanyaan kritis kembali menyeruak. "Rambut bisa terus tumbuh panjang, sementara bulu mata tumbuh hingga pada batas tertentu. Lalu, kalau bulu mata tumbuh terus seperti rambut bisa repot manusia. Berarti ini sudah ada yang mengatur lagi," kata dia.

Menurut A Sen, pertanyaan-pertanyaan kritis yang lahir dari pikirannya tanpa disadari merupakan ilham atau hidayah. Saat itu, A Sen memang belum mengetahui jawban-jawaban itu sebelum akhirnya membaca kitab suci Alquran. Berjumpalah A Sen dengan Alquran.

Dari Alquran, A Sen menemukan jawaban berupa dzat maha besar yang mengatur alam semesta ini yaitu Allah Swt. Dari Alquran pula, A Sen mengetahui bahwa apa-apa yang diciptakan manusia seperti asbak termasuk medium-medium seperti patung tidak bisa melihat penciptanya.

"Kita buat gelas, gelas itu tidak bisa melihat saya, begitu pula dengan saya yang diciptakan Yang Maha Kuasa, saya tidak bisa melihat pencipta saya. Tapi ada dzat maha kuasa yang menciptakan, suatu saat nanti akan memberikan kesempatan pada manusia untuk melihat dia," kata A Sen.

Usai mendapatkan jawaban hakiki tersebut, pemikiran kritis A Sen segera mengerucut pada sebuah kesimpulan bahwa agama yang hanya diterima Allah SWT hanyalah Islam. A Sen pun bingung. Sebab ia masih memeluk agama diluar Islam. "Ya, bagi saya, waktu itu, repot nih. Saya masih memeluk agama lain bukan Islam," ungkap A Sen.

Berangkat dari kesimpulan itu, A Sen mulai belajar Islam secara sembunyi di kamarnya. Suatu ketika, saat A Sen membaca Alquran, dia mendapat ayat yang menyebutkan perintah kepada setiap Muslim untuk memeluk Islam secara kaffah. "Masuk Islamlah saya secara keseleuruhan. Orang tua saya ngamuk bukan main," kata dia.

A Sen yang memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa dibimbing seorang ustadz, tanpa dihadiri Muslim lainnya. Di depan tembok kamarnya, ia berikrar menjadi Muslim.

Iapun menjelaskan pada keluarganya tentang keputusannya memeluk Islam. Ia mengatakan kepada kedua orang tua, kakak dan adiknya, bahwa agama yang selama ini ia dan keluarganya peluk bukanlah agama. Yang harusnya disembah, adalah pencipta matahari, bulan, dan bintang. Bukan hasil ciptaannya yang disembah. Langkahnya memeluk Islam diikuti sang adik.

Namun, ia masih menyembunyikan keislamannya. Baru pada tahun 1996, dibimbing Ketua Umum PITI DKI Jakarta, Syarif Tanudjaja, ia mengucapkan dua kalimat syahadat kembali di masjid Lautze. Fondasi keimanan yang dibangun sedari awal kian sempurna ketika ia memperdalamnya di Masjid Lautze.

Di saat itulah, konsekuensi memutuskan menjadi Muslim mulai bermunculan. Sindiran, ejekan dan sentimen terhadap dirinya berdatangan silih berganti baik dalam lingkup lingkungan sekitar rumahnya dan pekerjaan. Meski begitu, keyakinannya terhadap Islam tidak tergoyahkan. Bahkan kian memantapkan hati dan pikirannya atas jalan yang ia pilih.

"Setelah masuk Islam, masya Allah, luar biasa. Allah memberikan hadiah kepada saya yang tidak kepalang tanggung," katanya.

Menurut A Sen, Islam memang diakui sulit untuk dipelajari tapi menjamin kebenaran hakiki. Sementara agama lain, kata dia, mudah dipelajari tapi hanyalah membawa pada kerugian. "Mau yang berat tapi benar atau mau yang mudah tapi salah. Kalau saya tentu memilih yang berat tapi benar. Disini, kehidupan manusia tidak berhenti di dunia, tapi ada kehidupan akhirat. Maka saya memilih Islam. Mendingan yang berat tapi menjamin saya kebenaran. Susah-susah dahulu tidak apa-apa, yang penting bahagia kemudian," katanya.(IRIB/Republika)

Melihat Buruknya Perlakuan terhadap Muslim, Jennifer Tertarik pada Islam

Jennifer Fayed merasakan perkawinannya suram. Ia melihat tak ada ambisi pada suaminya yang pengangguran, yang telah dinikahinya tiga tahun. Ia mendapati dirinya hamil, sementara dua anaknya yang masih kecil belum bisa lepas dari pengawasan.

Jennifer, yang berusia 21 tahun dan masih kuliah, mulai merenungi tujuan hidupnya di dunia. Pikiran itu menggantung di benaknya: "Pasti ada alasan atas keberadaan saya."

Orang tuanya baru saja pindah ke Republik Dominika, sebuah negara kecil di Karibia. Ia merasa ditinggalkan, kendati punya suami dan dua orang anak. Ini lantaran selama ini ia merasa orang tua lah yang menjadi panutan baginya, yang menjadi dasar bagi siapa dirinya dan akan menjadi siapa ia berjuang.

Kala itu ia sedang tertidur saat mendapat telepon panik dari ibu mertuanya yang berteriak "Ada pesawat jatuh, pesawat jatuh di Manhattan." Jennifer bertanya bingung, "Apa, apa yang Ibu bicarakan!" Ia menyalakan televisi dan melihat menara kedua World Trade Center (WTC) dihantam pesawat.

"Saya shock! Siapa yang bisa melakukannya, siapa yang sanggup melakukan kekejian ini?" ujar Jennifer. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. "Apakah ini mimpi?" Ia berharap ini hanyalah sebuah film. "Ayo katakana ini hanya film," katanya dalam hati.

Ia baru saja mengunjungi WTC sehari sebelumnya. Ia melihat ini sebagai bukti bahwa belum saatnya dia mati. Ia merasa belum mencapai tujuan dalam hidup. "Saya tak tahu apa tujuan itu, tapi ini bukanlah saatnya bagi saya."

Hari itu Manhattan dilanda chaos. Jennifer tak tahu hari itu menjadi awal perubahan drastis yang akan terjadi dalam hidupnya.

Tak beberapa lama setelah serangan 11 September, Jennifer terbang mengunjungi orang tuanya di Republik Dominika. Saat itu kehamilannya berusia satu bulan. Suaminya telah mengetahui kehamilannya.

Ia berpikir bagaimana memberi tahu kehamilan ini kepada orang tuanya. Maklum, anak pertamanya adalah hasil hubungan di luar nikah, yang membuatnya terpaksa menikah guna menutupi aib. Well, katanya dalam hati, saya akan memikirkannya di Karibia nanti.

Ia terbang menggunakan American Airlines dengan nomor penerbangan 587. Ia merasa begitu cepat terbang setelah serangan WTC. Keamanan di bandara sangat ketat, dan orang-orang di pesawat berdoa, beberapa bahkan tak lepas berdoa sepanjang penerbangan. "Saya mulai tertawa dalam hati. Jika kami akan mati, maka itu takdir kami."

Jennifer terus memikirkan kehamilannya. Ia sebenarnya tak ingin kehamilan ini. Selain tak direncanakan, ini berarti mulut ketiga untuk diberi makan, sementara ia sudah kewalahan menghidupi dua orang anak, apalagi tiga.

Ia begitu bingung. Ia menghabiskan waktu bersama orangtuanya mencoba memberitahu mereka tentang jabang bayi. Ia merasa tak sanggup memberi tahu mereka, bahwa putri tertua mereka kembali mengecewakan mereka.

Karenanya, Jennifer memutuskan untuk aborsi dan tak ada yang perlu tahu dirinya hamil. "Solusi yang gampang," pikirnya dalam hati. Namun, di sisi lain, ia berasal dari keluarga Kristen yang taat, yang memandang aborsi adalah sesuatu yang tabu dan dosa.

Ia kembali ke New York dari Karibia, dan membuat janjian dengan klinik Planned Parenthood untuk mulai melakukan aborsi. Ia bertanya apakah bisa menggunakan pil untuk aborsi ini.

Betapa kecewanya Jennifer bahwa dirinya harus menjalani aborsi penuh karena tenggat untuk melakukan aborsi dengan pil sudah terlewati satu pekan. Ia sangat depresi. "Saya berkata dalam hati, Oh Tuhan, mereka akan mengangkat bayi ini dari perut saya. Apa yang telah saya lakukan?" Ia tak tahu apakah sanggup melalui ini semua.

Ia memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan. Namun, tidak menggunakan Rosario atau pergi ke gereja. Untuk pertama kali, ia akan berdoa langsung kepada Tuhan layaknya teman. Ia merasa Tuhan harus menolongnya. Tuhan adalah tumpuan terakhir.

"Saya menangis sambil terus memohon. Oh Tuhan tolonglah, saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Saya ingin bayi ini, tapi pernikahan saya sedang guncang, dan kami tak punya uang untuk menghadirkan seorang bayi lagi ke dunia ini. Saya percayakan sepenuhnya kepada Tuhan. Tolonglah, jika Tuhan menghendaki saya memiliki bayi ini, saya akan menerimanya. Dan, jika kehendak Tuhan untuk mengakhiri kehamilan ini, saya juga akan menerimanya."

"Saya memasrahkan penderitaan ini kepada Tuhan. Tuhan yang saya sembah dengan cara saya sendiri, bukan dengan cara yang diajarkan kepada saya. Tuhan, yang bagi saya tak punya pendamping, tak punya anak, hanya sesuatu yang saya tahu telah menciptakan saya," kata Jennifer. Ia kehabisan akal memikirkan kehamilannya.

Hari-hari berlalu, Jennifer sedang menyaksikan televisi saat sebuah siaran berita menginterupsi acara. "Oh tidak. Tidak serangan teroris lagi," katanya. Sebuah pesawat kembali jatuh di New York, kali ini di kawasan Queen, daerah asal Jennifer. Ia khawatir ini kembali ulah teroris. Ia terheran-heran mendengar nomor penerbangan dan tujuan pesawaat tersebut. Pesawat naas itu American Airlines dengan nomor penerbangan 587 tujuan Republik Dominika. Ya, pesawat yang ditumpanginya sepekan lalu. Rasa dingin menjalar di punggungnya.

Jennifer terpaku. Ia membayangkan bisa saja dirinya yang ada dalam pesawat itu. Ia merasa ini pertanda dari Tuhan. Ini bukan pertama kali dalam kurang dari sebulan ia begitu dekat dengan kematian. "Tuhan mencoba mengatakan sesuatu."
Sepekan setelah permohonannya kepada Tuhan, Jennifer mulai merasakan keram. Keram ini berbeda dengan yang biasa dirasakan pada trimester pertama kehamilan. Ia mengacuhkannya, bukan masalah besar.

Hari berlalu, rasa keram itu semakin parah, dan perdarahan pun mulai terjadi. Ia begitu takut. "Apakah saya keguguran?" Ia bergegas ke rumah sakit dan menjalani istirahat (bed rest) ketat.

Pulang ke rumah, Jennifer masih harus beristirahat di tempat tidur kendati rasa keram mulai berkurang. Saat tertidur, ia merasakan sakit luar biasa. Ia merasakan sesuatu keluar. "Saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Saya pergi ke kamar mandi dan menemukan segumpal daging keluar." Jennifer keguguran di usia kehamilan dua bulan. Saat kembali ke rumah sakit, pihak rumah sakit memastikan ia telah keguguran. Padahal, keesokan harinya, ia dijadwalkan oleh Planned Parenthood untuk menjalani proses aborsi, pada 15 Oktober 2001.

"Ini seakan tidak nyata. Apakah ini keajaiban dari Tuhan? Apakah Tuhan menjawab doa saya. Saya merasa Tuhan memberitahu bahwa kehidupan saya akan berubah. Akan berubah seperti apa? Saya tak tahu. Yang saya tahu, saya harus menyelesaikan kuliah dan saya tidak bisa bertahan lebih lama dengan suami yang tak ingin kerja dan tak punya ambisi dalam hidup." Jennifer akhirnya memutuskan untuk bercerai dari suami pertamanya.

Di lingkungannya, New York, Jennifer menyaksikan betapa buruknya perlakuan terhadap Muslim. Perlakuan ini terjadi begitu cepat setelah serangan 11 September. Setiap hari selalu ada berita yang melaporkan tentang kejahatan karena kebencian terhadap Muslim. "Sungguh mengerikan. Saya menyaksikan langsung orang-orang pindah berjalan di trotoar seberang jalan hanya karena mengira ada Muslim. Bisnis Muslim sepi. Tak ada yang ingin membeli dari toko Muslim. Di jalan, orang-orang berteriak kepada Muslim, Pergi ke negaramu, Teroris, Taliban!!"

"Mengapa orang-orang mengatakan kata-kata ini kepada orang-orang yang tak bersalah? Saya sepakat pelaku serangan adalah orang yang kejam, tapi kenapa menyalahkan orang-orang yang tak ada hubungannya dengan serangan?"

Dari sinilah muncul ketertarikannya. Jennifer mulai penasaran apa yang diyakini oleh Muslim. Ketertarikannya semakin besar setiap hari. Ia kemudian mendaftar untuk mengikuti sebuah acara di kampus. Di sana ia bertemu Muslim dan melontarkan berbagai pertanyaan tentang Islam. "Mengapa Anda mengenakan jilbab? Siapa yang Anda yakini? Siapa itu Muhammad yang sering Anda bicarakan?"

"Beberapa orang punya jawaban, namun sebagian besar tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan saya. Kebanyakan wanita Muslim yang saya tahu tak mengenakan jilbab dan mengatakan ini pilihan, dan mengatakan tak memiliki pengetahuan yang dalam tentang Islam." Jennifer merasa tak ada orang yang mampu memberikannya jawaban. Sehingga, ia berpaling ke internet untuk mencari jawaban. Di sana lah ia mengetahui tentang Islam.

"Saya tak percaya bahwa Tuhan telah mengutus nabi lainnya setelah Yesus. Saya tahu Tuhan tak akan menciptakan saya dan semua orang di dunia tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami. Mengapa kami di sini? Mengapa orang-orang selalu mengatakan Tuhan itu tritunggal, dan ini hanya menguatkan apa yang saya percayai sejak berusia 14 tahun bahwa Tuhan itu satu tanpa pendamping."
"Saya mencari kebenaran atas semua pertanyaan saya dan Islam menjawab semuanya. Muhammad adalah nabi yang luar biasa. Ia adalah nabi terakhir, yang terakhir diutus Tuhan untuk menyampaikan pesan terakhir-Nya kepada kita."

Jennifer memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang Nabi Muhammad. "Apakah ia manusia sungguhan? Apakah dia benar-benar ada?" Jennifer terkejut mengetahui Nabi Muhammad adalah manusia sungguhan. Bukan saja Muhammad adalah seorang nabi yang menyampaikan wahyu, namun seluruh hidupnya telah terdokumentasikan. "Saya takjub, inilah agama saya," pikirnya. "Keyakinan yang selama bertahun-tahun saya cari, yang disebut Islam," katanya.

Jennifer mengikuti tarawih Ramadhan pada musim gugur 2002, meski ia belum masuk Islam. Saat itu masjid penuh oleh jamaah. "Tak seperti keuskupan yang hanya dihadiri satu jenis ras atau kebangsaan di sebuah gereja khusus, masjid dipenuhi berbagai orang dari berbagai spektrum. Mereka sangat akrab dan selalu mengatakan Assalamualaikum," ia mengisahkan. Ia tak tahu apa artinya itu. Ia hanya mengangguk malu.

"Saatnya melaksanakan sholat. Ini sholat pertama saya seperti seorang Muslim," katanya. Ia sebenarnya tak tahu apa mereka lakukan. Namun, seorang temannya mengatakan ‘ikuti saja apa yang mereka lakukan'. Jadi, itulah yang ia lakukan.
Jennifer berkomat-kamit meniru jamaah lainnya. Ia juga ikut bersujud, tanpa tahu maksud dan alasannya. "Saya menikmatinya. Saya kagum bahwa semua Muslim menghadap Kabah di saat yang sama setiap shalat, tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal. Kami tak punya ini di Kristen, sama sekali tak punya," paparnya.

Saat itu ia mengenakan jilbab untuk menghormati para jamaah. Ia tak tahu bagaimana cara mengenakan jilbab. Jadi, ia membeli dua helai selendang (scarf) yang ia pasang sekenanya. "Saya merasa anggun dan hangat saat mengenakan jilbab. Saya bisa berjalan di jalanan tanpa dipandang sebagai obyek seksual. Orang-orang memang menatap saya, tapi saya tak peduli."

Pulang dari masjid pada hari itu, ia bertekad untuk mengenakan jilbab setiap saat. "Orang-orang terus mengatakan bahwa saya tak perlu mengenakan jilbab karena saya bukan seorang Muslim. Saya hanya berkomentar ini keputusan saya dan ini bukan urusan mereka. Saat mengenakan jilbab, ada perasaan aman, perasaan hangat dalam hati, bahwa saya mengikuti perintah Tuhan. Saya tak peduli terhadap tatapan dan komentar negatif dari orang-orang."

Jennifer merasa belum melakukan cukup. Ia pun melakukan puasa dalam beberapa hari di bulan Ramadhan. Lalu, ia berpikir bagaimana mengatakan ini semua kepada orang tuanya.

Saat orang tuanya datang dari Republik Dominika, Jennifer tengah serius mempertimbangkan untuk mengucap syahadat. "Hanya saja, saya tak tahu bagaimana memberi tahu keluarga saya, terutama ibu saya karena ia sangat cerewet kepada saya. Saya telah mengenakan jilbab, jadi saya tak bisa melepaskannya hanya karena mempertimbangkan perasaan ibu saya, karena kewajiban saya adalah kepada Allah, lalu baru kepada orang tua," ungkapnya.

Sebagai awal, Jennifer memberitahu adiknya, Catherine, yang lima tahun lebih muda. Ia ingin melihat reaksi Catherine, yang mungkin akan sama dengan reaksi orang tuanya. Ia memanggil Catherine dan berkata, "Hey Catherine, saya melakukan sesuatu."

Adiknya tak terkejut. Maklum, Jennifer memang biasa melakukan sesuatu di luar norma. "Apa yang kamu lakukan kali ini Jennifer?"

Jennifer mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan masuk Islam, dan ia kini telah mengenakan jilbab. Catherine tertawa kencang. "Ia mengatakan kini saya benar-benar telah ‘melakukannya' dan orang tua kami akan ‘membunuh' saya. Ia juga mengatakan tak percaya saya kini salah satu dari teroris itu."

Namun, Catherine segera menyambung kalimatnya, "Kamu kakak saya dan saya menyayangi kamu tak peduli apa agama yang kamu anut." "Ia juga mengatakan bahwa orang tua kami akan mengamuk," ujar Jennifer. Tak berhenti di situ, Catherine lantas mengatakan "Jangan beri tahu ayah dan ibu tanpa saya ada di sana, jadi saya bisa mentertawakan kamu." Jennifer tahu adiknya hanya bercanda.

Jennifer akhirnya memberanikan diri memberi tahu orangtuanya. "Ayah saya bisa menerimanya. Saya pikir kebanyakan pria akan bisa menerimanya jika hal itu berarti sang anak akan menutupi tubuhnya."

Namun, ibunya sangat marah dan shock. "Dia terus meyakinkan saya bahwa saya salah langkah dan Islam bukan agama yang tepat. Satu yang yang paling memberatkannya adalah saya mengenakan jilbab."

Butuh dua pekan bagi ibunya untuk kembali tenang. "Tak lama mereka ahirnya bisa menerima. Bagaimanapun, ibu saya terus mengatakan bahwa ini hanyalah sementara, sebuah tahapan, dan saya akan kembali tersadar," ungkap Jennifer. Sepekan berselang, Jennifer akhirnya memutuskan untuk mengucap syahadat.

Hari itu, Jumat pertama Januari, Jennifer bangun pagi dengan perasaan membuncah. Ini dia hari H, hari dimana ia akan mengucap syahadat. Ia lalu mandi dan mengejar kereta untuk pergi ke masjid guna mengucap syahadat.

Di masjid, ia menemui imam dan mengatakan ingin mengucap syahadat. Sang imam menatapnya dengan senyuman dan mengatakan "Anda yakin, ini yang benar-benar Anda kehendaki?" Dengan semangat Jennifer menjawab "Ya, ya, ini keputusan saya."

"Maka, di hari itu, seluruh saudara seiman, laki-laki dan perempuan, bergabung untuk menyaksikan saya masuk Islam," kata Jennifer. "Hari itu, begitu banyak orang mengucap selamat dan mengatakan kepada saya jika saya membutuhkan apa pun, mereka akan membantu saya. Saya begitu beruntung. Di sini lah saya bersama keluarga baru, sebuah keluarga yang anggotanya berasal dari seluruh belahan bumi."

"Pada Jumat malam itu saat saya tidur, malam pertama saya sebagai Muslim, saya mengalami mimpi terindah, sebuah karunia. Saya berada di sebuah lembah yang dipenuhi rerumputan hijau nan indah. Perbukitannya begitu indah, tak pernah saya lihat sepanjang hidup, dan saya berjalan di sana menuju seorang pria. Dia juga berjalan ke arah saya, dia mengenakan galabiya putih. Wajahnya samar, tak mirip wajah manusia yang sebenarnya, namun terang seperti matahari. Saya merasa begitu hangat dan aman. Dia memegang tangan saya dan kami berjalan bersama ke arah sebuah batu melingkar yang besar. Di batu itu ia duduk dan saya duduk di rumput. Ia kemudian mengatakan kepada saya ‘Selamat datang ke Islam'."

Saat terbangun, Jennifer merasakan perasaan yang begitu indah dalam hatinya. "Saya pikir inilah Rasul. Ia datang untuk menyambut saya masuk Islam. Saya kemudian mendapati bahwa itu bukan Nabi Muhammad, tapi salah satu malaikat Allah yang telah menyambut saya, karena malaikat tak memiliki wajah manusia, namun wajahnya samar (blur)."

Jennifer merasa sangat spesial sejak hari itu. "Sebuah malaikat, malaikat Allah datang untuk menyambut saya kepada agama Allah, agama saya. Agama yang begitu saya dambakan sejak kecil. Islam adalah agama yang sebenarnya."
Jennifer Fayed kini menjadi penulis yang tingal di Carolina Utara, AS. Berbagai tulisannya telah menginspirasi banyak orang. Ia memiliki gelar di bisnis pemasaran, dan anggota aktif Muslimah Writers Alliance. 

(Radioislam/republika)

Sebagai Muslim Kiwi, Warga New Zealand Masih Asing dengan Nama Abdullah

Ibu saya ialah penganut Saksi Yehuwa, dan ayah saya bisa disebut sebagai mantan Katolik, tetapi saya dibesarkan pada tahun 1970-an dalam suasana yang toleran. Malah saya punya seorang paman yang Apostolik, dan anggota keluarga lain yang menganut Anglicans.
 
Pada tahun 1990-an saya belajar sejarah di universitas dan minat saya terhadap Islam bertambah.
 
Sebaik saja kami menyentuh apa saja yang berkaitan dengan hal-hal Islam, atau agama Islam atau sejarah Muslim, sama ada di Soviet Union, Soviet Russia, atau di Religius Studies 101 (Mengenal Agama Dunia), dimana saja saya bertemu dengan Islamdan hal ini semakin menarik minat saya. Saya banyak membaca buku, dan secara perlahan, saya mula menyakini bahwa agama ini adalah agama yang benar, maka memeluk Islam merupakan satu langkah yang logis.
 
Pada bulan Augustus 1996, saya bertemu dengan Dr. Mustafa Farouq, Dr. Anis Al-Rahman di Hamilton dan masih banyak lagi yang saya lupa nama mereka. Saya juga masih ingat dengan Abu Saad, warga Mesir dari Port Said, dia tentu ingat dengan saya. Sebenarnya banyak sekali orang, mereka adalah orang-orang yang baik yang saya lupa nama mereka. Setiap kali saya ke Hamilton, saya akan mengingatnya.
 
Reaksi Keluarga dan Rekan-rekan
Saya telah mengungkapkan minat saya terhadap Islam, maka saya tidak berpikiran  mereka merasa terkejut dengan keputusan saya. Semuanya mengalir secara alami. Sesuatu yang memang telah mereka program, karena saya sering berbicara tentang Islam di masa luang kami. Maka saya tidak merasakan bahwa mereka terkejut, saya tidak punya argumentasiapapun.
 
Kemudian, saya diberi tahu betapa orang-orang lain yang baru memeluk agama Islam berselisih paham dengan keluarga mereka. Mereka terpaksa sendirianmenghadapi pelbagai problema dan halangan. Betapa beruntungnya saya karena keluarga saya begitu mendukung dan membantu. Ibu saya senantiasa mencarikan kami makanan halal saat datang mengunjungi kami. Saya tidak pernah menghadapi kesulitan seperti orang lain.
 
Bagaimana Islam mengubah kehidupan keseharian saya?
Saya senang sekali memikirkan bahwa Islam telah mengubah saya menjadi lebih baik, saya berharap Islam menjadikan saya lebih baik. Saya tidak dapat membuktikannya tetapi saya sering mengharapkannya. Anda senantiasa berharap untuk menjadi orang yang lebih baik; menjadi ayah yang lebih baik, menjadi pekerja yang lebih baik, menjadi rakyat yang lebih baik dan seterusnya.
 
Saya pikir Islam membantu saya menjadi orang yang lebih baik dengan memberikan saya untuk bertumpu pada satu keyakinan bahwa kita tidak kekal di dunia yang semu ini. Ayah saya sering berkata bahwa kita hanyalah merupakan bagian dari putaran nitrogen! Bahwa anda akan mati, selepas mati, anda akan dikebumikan, itu saja. Manakala Islam memberikan anda lebih dari itu, bahwa akan diberikan yang lebih baik dari sekadar kematian. Ia memberikan sesuatu untuk anda kerjakan, tidak sekedar untuk perkara materi di dunia ini saja, anda bisa bekerja untuk perkara yang lebih baik di dunia akan datang dalam bentuk spiritual.
 
Selain dari sekadar memfokuskan diri untuk mengumpulkan uang dan barang materi atau begitu gairah untuk mendapatkan harta kekayaan, dimana Tuhan Maha Mengetahui bahwa saya jauh sekali darinya, anda bisa menumpukan perhatian kepada perkara-perkara spiritual seperti apa yang bisa anda lakukan bersama muslim lain di masjid, membantu orang banyak dan meluangkan waktu untuk keluarga. Semua orang mengatakan bahwa saya tidak begitu menumpukan perhatian pada pekerjaan, saya lebih banyak memberi perhatian pada keluarga. Saya sering memberikan hubungannya dengan agama. Islam memberikan tekanan pada keluarga, makanya saya senantiasa memberi waktu saya untuk keluarga saya, anak-anak saya.
 
Apa yang bisa diberikan oleh Islam?
Islam bisa memberikan banyak kepada manusia. Ia memberikan panduan, melakukan sesuatu dengan tujuan. Anda tidak hanya memberikan tumpuan kepada perkara-perkara duniawi saja, anda juga bisa memberikan tumpuan pada maknawi. Islam memberikan banyak etika yang baik, contohnya meninggalkan alkohol. Saya sebenarnya mempunyai pengalaman pribadi dalam hal ini sebagai pribadi, sebagai seorang anak lelaki, sebagai saudara, sebagai ayah….. dalam hal meninggalkan alkohol. Upaya ini benar-benar merupakan pembuangan masa dan uang, dan sebaliknya anda meninggalkan alkohol, seperti yang dianjurkan Islam anda dilarang minum alkohol, anda bisa menghemat uang dan anda punya waktu yang banyak untuk anak anda, ia memperbaiki kehidupan anda. Ia menjadikan anda orang yang lebih baik….
 
Saya menganjurkan kalian untuk membaca, Muslim dan non Muslim. Saya merasa terkejut melihat orang lain begitu sedikit membaca, mungkin karena saya banyak sekali membaca! Saya menggalakkan orang untuk banyak membaca, saya tahu orang lebih suka menonton televisi. Saya menyerukan mereka untuk membaca. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw ialah "Bacalah dengan nama Allah". Bacalah buku sejarah, bacalah sejarah Nabi Muhammad saaw. Baca tentang Muslim lain. Baca juga tentang non Muslim, luaskan pengetahuan anda.
 
Tidak ada yang lebih baik dari memperdalamkan pengetahuan anda dengan membaca. Bacalah al-Quran. Banyak orang yang membuat penilaian tentang Islam dan mereka tidak pernah membaca al-Quran. Sungguh mengherankan saya betapa banyak orang yang melakukan penilaian ke atas sesuatu yang tidak pernah mereka baca, demikian juga orang Islam sendiri. Makanya saya menyerukan supaya Muslim membaca.
 
Muslim Kiwi
Sebagai seorang muslim Kiwi, sebenarnya saya merasa bosan. Banyak yang beranggapan ini merupakan sesuatu yang mengairahkan….Tidak sama sekali. Sebenarnya biasa saja. Saya melakukan apa saja orang lain lakukan. Kecuali saya tidak minum alkohol. Saya juga ikut serta dalam pertemuan keluarga, berkelana dan menghabiskan waktu dengan membaca dan lain-lain perkara yang pernah saya lakukan sebelum memeluk agama Islam. Ini bukan satu perubahan besar bagi saya, karena banyak perkara yang saya lakukan dalam Islam telah saya lakukan sebelum saya memeluk agama Islam. Seperti yang saya katakan, saya mempelajari Islam dan sejarah Islam, maka banyak sekali perkara yang berlaku secara alami.
 
Saya tidak menemui konflik yang membebankan saat menjadi seorang Kiwi atau seorang Muslim. Mungkin orang tidak biasa dengannya, banyak sekali yang bertanya mengapa saya menggunakan nama Abdullah, atau orang bertanya "Abdullah anda dari mana?" Saya akan katakan "Saya datang dari New Zealand! Ia bukannya sesuatu yang eksotik, ianya seperti nama-nama Muslim yang lain, seperti Cat Steven menjadi Yusuf Islam, Cassius Clay menjadi Muhammad Ali."
 
Saya pasti bahwa di New Zealand, nama ini masih kurang mendapat apresiasi. Ia merupakan sesuatu yang baru, yang bisa memakan waktu yang lama. Adakalanya saya merasakan bahwa saya perlu membawa kartu bisnis hanya untuk menjelaskannya, karena saya malas untuk menjelaskannya….Saya menjadi muslim karena ia merupakan agama yang baik bukan saya ingin menarik perhatian orang terhadap saya. (IRIB Indonesia/onislam.net)

Julie Rudy: Suamiku Berkata, Islam akan Membuatmu Kehilangan Teman!

Nama saya Julie Rudy. Saya memeluk agama Islam kira-kira 30 tahun lalu. Saya berasal dari Minnesota. Ibu saya berasal dari Norwegia dan ayah saya berasal dari Jerman. Kami tinggal di sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk 1500 orang, terdapat 13 gereja dan tidak ada sinagog maupun masjid.
 
Karena saya tinggal disebuah kota kecil, maka tidak ada seorang muslim yang tinggal di kota kami. Saya tidak mengetahui apa-apa mengenai Islam. Saya dikelilingi oleh umat Kristen. Mungkin mereka menganut mazhab kristen yang berlainan seperti mayoritas yang tinggal di tempat kami ialah Methodist dan Lutheran. Ketika saya bekerja di Universitas Minnesota, saya menemui beberapa orang muslim. Saya tidak mengetahui apa-apa mengenai mereka. Saya merasa malu untuk bercakap dengan mereka.
 
Bertemu dengan suami saya
Kami bertemu dalam sebuah pertemuan yang aneh. Hari itu adalah hari Kekasih(Valentine). Saya sedang berada di pusat perbelanjaan South Ville. Entah saya yang bertanya kepadanya berkaitan jam saat itu, entah dia yang bertanya kepada saya. Kemudian, saya bertanya kepadanya berkaitan keluarganya dan dia pula bertanya kepada saya berkaitan keluarga saya. Dia tidak biasa melihat salju dan sebagainya, saya pula bercerita mengenai Minnesota dan membesar di Minnesota. Memangnya saya lahir dan dibesarkan di Minnesota.
 
Saya membuat keputusan untuk mempertemukan ibu saya dengan suami saya. Abang dan isterinya serta dua adik perempuan saya bertemu Salah. Saya mengundang mereka untuk makan malam. Ibu saya adalah seorang yang lembut dan dia berkata, selepas 15 pertemuan dengan Salah, "Dia adalah orang sempurna untuk kamu". Walaupun dia datang dari budaya, agama, dan bahasa yang berbeda dan sebagainya, ibu saya seolah-olah menyadari bahwa kami saling melengkapi.
 
Mengikuti dia, saya bertemu dengan seorang temannya beristrikan seorang wanita Amerika. Kebetulan pula dia ini mahasiswi Universitas Minnesota, tempat saya bekerja. Dia akan datang mengunjungi saya di kantor. Dia mengenakan hijabnya. Malah kebanyakkan waktu dia mengenakan hijab hitam. Saya merasa kurang enak tetapi dia kelihatan ikhlas. Maka kami terus bertemu atau dia akan datang mengunjungi saya di kantor. Apa yang menarik berkaitan dirinya, dia tidak pernah memaksa.
 
Pada masa itu, saya berhubungan dengan calon suami saya lewat telepon, atau kami akan keluar bersama untuk makan siang atau hal-hal lain. Dari situ saya mulai mempelajari tentang Islam….
 
Ketika saya mulai mencari tahu tentang Islam, saya bertemu dengan kawan saya yang telah memeluk Islam setahun lalu dan dia mengenakan hijab, saya langsung saja bertanya tentang hijab, karena ia merupakan satu hal yang besar bagi saya. Ia merupakan satu hal yang drastis dan saya berkata, "Apa maksud Islam?" Apa yang yang anda lakukan sebagai seorang muslim?
 
Mempelajari Islam dan Reaksi Famili
Suami saya mengatakan bahwa begitu banyak yang harus dipelajari mengenai Islam. Dia malah berkata, "Walaupun saya lahir dalam keluarga Muslim tetapi masih banyak yang tidak saya ketahui tentang Islam. Kami punya orang yang berpengetahuan dan pergi ke sekolah. Mereka inilah yang tahu banyak mengenai Islam."
 
Islam mengajar setiap orang bahwa kita bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan. Maka andainya kita melakukan sesuatu yang tidak benar, maka itu adalah tanggung jawab kita. Dan suami saya menyakinkan saya. Adalah lebih mudah untuk kita melakukan kebaikan. Dia mengatakan begitu banyak jalan untuk melakukan kebaikan. Dia seperti memberikan dorongan kepada saya. Kemudian saya membuat keputusan untuk memeluk agama Islam dan mengucapkan syahadah. Sebenarnya saya tahu apa yang telah saya lakukan, hanya saya masih banyak tidak mengetahui tentang Islam. Saya masih harus banyak belajar, saya masih merasa dan terutama sekarang, ketika saya menoleh ke belakang, saya harus katakan bahwa saya sekedar menyentuh bagian permukaannya saja.
 
Saya merasa selesaiseandainya saya tidak diharapkan untuk melakukan sesuatu yang ganjil, atau saya ingin belajar dengan upaya saya sendiri. Ketika saya mengucapkan syahadah, saya hanya mengenakan kerudung kecil dan mengikatnya di belakang. Saya tidak ingin merasakan sama ada Salah atau malah kawan saya memaksa saya atau mengatakan saya harus mengenakan pakaian seperti ini atau saya harus berperilaku begini. Mereka bersikap lembut dan tenang dengan saya. Ini amat membantu saya untuk berubah ke arah yang lebih baik.
 
Saya punya adik perempuan yang berusia dua tahun lebih muda dari saya. Namanya Penny. Pada mulanya dia mungkin tidak memahami apa pengertian berubah untuk diri saya. Maka dia sering mengemukakan persoalan-persoalan kepada saya. Tetapi kemudian dia memahami bahwa tidak ada apa yang akan berubah. Saya tahu bila saya harus keluar dengan adik saya, andainya saya mengenakan kerudung, dan kebetulan kami pergi ke tempat dimana mereka mengenali adik saya, atau seumpamanya, saya dapat merasakan Penny merasa malu atau keberatan untuk mengenalkan saya. Tetapi beberapa tahun kemudian, kami berdua bisa tertawa berkaitan hal tersebut, seandainya kami bertemu seseorang yang dia kenal, dia akan terus berkata, "Oh, ini kakak saya Julie".
 
Adik perempuan saya yang berusia tujuh tahun lebih muda dari saya punya sikap yang berlainan pula. Sebelum saya memeluk agama Islam, dia menganggap saya seorang yang baik, saya tidak pernah melakukan kesalahan. Sebelum memeluk Islam pun, hubungan kami memang tidak baik, apa lagi ketika saya memeluk agama Islam. Dia melakukan banyak perkara yang tidak pernah terlintas untuk saya lakukan.
 
Begitu sulit sekali untuk saya memberitahu kepada ibu saya. Maka saya memutuskan untuk meneleponnya. Ia menjadi begitu emosional dan sulit sekali bagi saya. Saya meneleponnya dan memberitahu, "Ibu, saya memutuskan untuk memeluk agama Islam."
 
Dia berkata, "Saya punya dua pertanyaan, Anda masih percaya dengan keberadaan Tuhan?"
 
Dan saya berkata, "Ya, saya percaya."
 
Dia bertanya lagi, "Adakah ia akan membuat Anda bahagia?"
 
Dan saya berkata, "Ya, ia akan membuat saya bahagia."
 
Dia berkata, "Baiklah. Anda harus melakukan apa yang membuat anda bahagia."
 
Ketika saya mengucapkan syahadah, suami saya berkata, "Anda akan kehilangan kawan-kawan."
 
Saya memberitahunya: "Tidak, bukan kawan saya, bukan kawan saya, teman sekerja saya dan beberapa orang lain yang saya miliki. Saya pasti, semuanya akan berjalan baik".
 
Dan benar apa yang dikatakan oleh suami saya. Saya kehilangan banyak teman saya karena saya tidak lagi keluar. Tidak lagi minum alkohol, dan malah pernah satu ketika saya keluar makan siang bersama teman-teman perempuan saya. Mereka meminta minuman keras yang dihidangkan di atas meja tempat kami duduk, seluruh waktu saya rasakan seolah-olah saya sedang duduk di atas jarum. Saya merasa sungguh tidak nyaman dan setelah itu saya meninggalkannya. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi………….

(IRIB Indonesia / onislam.net)

Jon Dean: Setelah Memeluk Islam, Saya Tidak Pernah Menengok ke Belakang

Nama saya ada Jon Dean.
 
Kisah saya bermula pada tahun 2008-2009, ketika itu saya berpindah ke Riyadh.
Saya bekerja di sana. Saya bekerja di bagian industri kesehatan dalam bidang olahraga dan makanan. Arab Saudi adalah sebuah negara yang memerlukan orang seperti saya dan membantu mereka untuk bergerak. Masih terdapat industri besar yang masih berkembang di sini, segera, dan mereka merupakan orang-orang kaya. Anda tahu bahwa di sini memang banyak uang. Makanya saya datang ke sini.
 
Sebenarnya saya tidak punya ide tentang Islam, memang nihil. Selain sekadar mendapat informasi dari gambar-gambar yang ditayangkan di televisi, saya berpendapat bahwa demikianlah realita Arab Saudi dan begitu juga dengan sebagian besar negara Timur Tengah yang dilanda perang. Manakala rakyatnya melakukan pengeboman di sana dan di sini. Saya tidak punya ide dan gambaran ini membuat saya agak sedikit bimbang untuk datang ke sini.
 
Hal ini juga memberikan gambaran kepada saya bahwa Islam adalah agama yang keras. Andai anda meletakkan kaki di luar garis yang telah ditetapkan, anda akan dipenjara dan dipotong tangan. Anda akan dapat mendengar berbagai cerita seperti ini.
 
Maka hal pertama untuk saya adalah memahami Islam secara benar untuk memastikan diri saya tidak berakhir dalam penjara. Di situlah mengapa saya mulai mengenal Islam. Saya ingin menjalani hidup normal semungkin bisa dibandingkan dengan apa yang biasa saya lakukan di rumah saya. Saya tidak ingin ditangkap karena melakukan sesuatu yang tidak benar sehingga menyebabkan saya diseret ke penjara atau dalam keadaan buruk. Saya tidak tahu apa bentuknya.
 
Maka sayapun mulai membaca sedikit berkaitan Islam. Saya tinggal bersama berbagai macam ragam orang dan dari berbagai negara. Saya tinggal bersama dengan Hindu, Budha, Kristen dan Katolik. Saya juga punya teman dari Yahudi dan ateis, orang-orang spiritual yang mengamalkan berbagai macam praktik spiritual, perkara-perkara yang tidak agamis tetapi mereka percaya bahwa adanya Pencipta. Mereka tidak mempercayai Injil atau Quran atau teks-teks lain yang kita berikan.
 
Dahaga ilmu pengetahuan
Saya senantiasa mengetahui bahwa ada yang lebih besar dari apa yang dapat saya lihat. Saya tidak pernah menjadi seorang ateis, tidak pernah, dan saya tidak pernah menyakini terjadinya sebuah kejadian besar dan kehidupan ini tidak punya tujuan, bahwa tidak ada hubungan dengan sesuatu, tidak ada yang lebih besar dari saya, demikianlah saya, saya bisa melakukan apa saja, saya tidak pernah berkeyakinan seperti itu, dan ia merupakan dasar kukuh yang saya pegang. Saya juga berminat untuk mengetahui lebih. Saya senantiasa dahaga ilmu pengetahuan, kepada sesuatu yang tidak dapat saya lihat. Saya pernah membaca banyak buku, mengenali tokoh-tokoh seperti Bruce Lee, Mohammad Ali. Saya berminat dengan seni pertahanan diri dan boxing. Saya pernah menyukai sisi spiritual tokoh-tokoh seperti ini, dimana menjadi sumber kekuatan mereka, kepercayaan mereka, dan keberanian mereka untuk terus berjuang. Inilah yang membuat saya tertarik.
 
Di Arab Saudi
Ketika saya tiba di Arab Saudi, sebuah negara dimana anda akan menjadi terkejut, mayoritas wanita mereka menutup seluruh diri, semua lelaki mereka mengenakan pakaian tradisional. Begitu berbeda dengan tempat saya tinggal. Dan Saudi bukanlah sebuah negara yang ramah. Anda keluar rumah dan orang tidak memberikan senyuman kepada anda di jalanan.
 
Apa yang saya perhatikan ialah semakin saya bercakap dengan orang di sini, semakin mereka menjadi ramah. Dan saya terus berpikir "sebentar, saya pasti bahwa orang-orang disini seharusnya bersikap keras dan tidak ingin membantu" dan ini merupakan kesalahpahaman yang terdapat dalam otak saya. Sebenarnya orang-orang Arab secara umum adalah orang yang paling ramah dan rajin membantu di atas muka bumi ini. Selain itu, ia merupakan tempat yang paling aman yang pernah saya temui dalam hidup saya.
 
Saya tidak perlu melihat belakang saya. Anda bisa melewati sekelompok orang yang berusia 17-18 tahun pada jam dua pagi yang berdiri di luar pasaraya atau toko kopi. Anda bisa melewati mereka dan anda tidak akan merasa bimbang. Mereka biasanya adalah orang yang baik dan berkata, "Hey, apa khabar anda? Bagaimana Manchester United?" Perkara seperti ini.
 
Orang-orang di sini ramah, baikdan mudah memberi.Sikap ini membuat saya terkejut dan saya mulai berpikir "Andai orang ini tidak seperti yang digambarkan oleh televisi, anda tahu, tidak ada tentara yang berjalan di jalan, tidak ada perang yang kononnya sedang berlaku, tidak ada yang meledakkan diri mereka. Jika ini tidak berlaku seperti apa yang saya percaya, maka sudah pasti agamanya tidaklah kasar dan keras serta seperti berada dalam penjara."
 
Saya mula bercakap dengan rekan-rekan saya tentang agama seperti bagaimana anda melaluinya. "Anda seorang yang cool, bagaimana anda melewati kehidupan ini tanpa melakukan ini, dan ini dan ini?" Dan orang lain juga mengemukakan hal yang sama kepada saya. Mereka sering bercakap tentang Nabi Muhammad Saw, kehidupannya dan apa yang beliau lakukan dan bagaimana produktifnya dia. Bagaimana dia melewati kehidupan yang seimbang dan betapa baik dan dermawannya beliau serta perkara-perkara seperti ini.
 
Saya berpikir, tokoh ini benar-benar menakjubkan dan menarik. Saya mula berpikir lebih banyak mengenai Nabi Muhammad dan nabi-nabi lain dalam Islam. Berbagai pikiran terus membanjiri diri saya, informasi ini dan bagaimana kisah-kisah ini dari Injil yang pernah saya pelajari di sekolah juga terdapat dalam Quran, dan bagaimana kedua agama ini saling berkaitan. Sebenarnya terdapat tiga agama, agama Ibrahim seperti agama Yahudi, Kristen dan Islam, dan bagaimana ketiga agama ini saling berkaitan antara satu dengan lain. Ini memberikan kesadaran kepada saya. Saya kira saya pernah mendengar cerita ini. Saya pernah melihatnya dan saya mula mendapatkan informasi yang lebih banyak.
 
Transparan
Sebagai seorang saintis, perkara ini amat penting, ketika anda mula mempelajari Quran atau hadis atau teks-teks yang mengitari agama ini, terdapat banyak bukti yang transparan. Anda hanya perlu duduk dan melihatnya seraya mengatakan bahwa anda bisa melihat sumber informasi, anda bisa melihat sejarah di mana ia datang. Dan tidak seperti teks-teks agama lain, ia sebenarnya amat mudah. Ia transparan. Anda hanya perlu menyakini wujudnya Tuhan. Yang lain akan dapat anda dapati, dan secara perlahan ia meresap dalam kehidupan anda. Jika anda mempercayai kewujudan Tuhan dan anda menyakini bahwa terdapat sebaris para nabi yang diutus untuk menyampaikan risalah mereka untuk membantu anda, maka itulah Islam.
 
Pada mulanya ketika saya mendengar dari seorang pria mengatakan hal ini, saya merasa terkejut. Saya bertanya kepadanya, "Bagaimana sesuatu tampak begitu mudah? Sepertinya saya tidak perlu melakukan ini atau melakukan itu setiap hari?" Dia memberikan jawaban bahwa cara agama ini dilaksanakan da ini seperti panduan untuk  menjalani kehidupan. Jika anda mempercayai bahwa ada yang menciptakan semuanya, ya, sang pencipta, maka kita, alam dan segala ciptaan-Nya. Ia bukanlah satu kebetulan. Jika anda menyakininya maka anda adalah seorang muslim. Anda menyakini keesaan Pencipta yang menguasai alam ini.
 
Maka tugas anda ialah untuk terus menyelidiki jalan ini. Apa yang menariknya tentang Islam, Islam mengajak anda untuk mengujinya, memberi tantangan padanya, membaca, mempelajarinya terutamanya sejarah Islam, umat Islam sering menceritakan tentang kemajuan Islam. Kemajuan yang Islam lakukan ke atas dunia ini amat menakjubkan. Dan saya tidak akan menceritakan di sini. Memang benar, sungguh menakjubkan, sejarah dan sains Islam, saya dapati bahwa ramai orang yang tidak mengetahuinya dan ia juga tidak diajar di sekolah.
 
Seperti orang ingin berselancar, tidak ramai dari kawan saya yang bisa berselancar atau bermain snowboard. Mereka semuanya diperlihatkan di televisi, sebagian mereka kelihatan amat baik dan sebagian kelihatan gila dan membahayakan. Tetapi sehingga anda sendiri yang memulainya, sehingga anda mulai merasainya, anda tidak akan pernah memahaminya. Dan begitulah juga dengan Islam. Anda harus mula membaca mengenainya dari sumber yang benar dan orang yang baik.
 
Saya mengenalbanyak orang bijak yang bisa anda mendengar tentang Islam. Mereka pada dasarnya dapat membuka mata saya dan memberikan kesadaran bahwa apa yang saya tahu selama ini adalah salah dan ketika saya mula membaca mengenainya, ia ternyata begitu mudah, transparan dan logik.
 
Perkara seperti shalat, saya pernah melakukan meditasi dahulu. Saya ikut serta dalam kelas-kelas yoga. Saya dapat merasakan sebenarnya, mengambil satu waktu dalam sehari untuk mengucapkan kesyukuran dan memikirkan apa yang lebih tinggi dari diri anda dan memikirkan orang yang anda kasihi. Perkara-perkara seperti ini amat membantu. Jika anda melakukan dengan satu kelompok seramai ribuan orang, anda akan merasa tenaganya, percayalah anda seperti diisi ulang.
 
Saya dengan mudah dapat menunaikan shalat. Sebaik saja anda meletakkan kepala anda ke lantai, sesuatu di dalam badan anda memberitahu akal anda, jiwa anda, ruh anda dan apa saja, bahwa anda benar-benar dalam keadaan pasrah dan inilah Islam. Anda sebenarnya sedang sujud, dan anda mengatakan "Ya, ada sesuatu yang lebih besar dari diri saya." Dan saya ingin mempelajari lebih mendalam berkaitan hal ini. Saya ingin membina perasaan yang kita panggil iman dan untuk melakukannya saya perlu melakukannya berulang kali. Saya akan membinanya secara perlahan dan saya akan menikmatinya.
 
Bersedia untuk syahadah
Anda harus mengetahui apa yang orang pikirkan dan apa yang mereka rasakan. Satu hari saya setelah semua informasi berada dalam kepala saya, yang saya dapati dari membaca dan belajar, kami makan siang di rumah sakit, salah seorang teman saya berkata, "Saya berharap satu hari anda Insya….. akan menjadi seorang muslim!".
 
Saya berkata: "Saya kira saya sudah bersedia."
 
Dia bertanya: "Anda sudah bersedia?".
 
Saya berkata: "Ya, saya sudah bersedia. Saya ingin melakukannya. Saya ingin memeluk agama Islam."
 
Saya telah mempelajarinya. Saya telah menyelidikinya. Seperti seorang saintis yang tertarik. Saya menyakininya. Dan seperi ada sesuatu yang menarik saya. Seperti ada yang perlu saya lakukan. Saya harus mengikutinya. Saya akan mengambil peluang ini.
 
Saya keluar dari kawasan rumah sakit bersama dua orang teman saya. Jika anda ingin memeluk agama Islam anda perlukan dua orang saksi bersama anda dan anda hanya perlu memberikan kesaksian bahwa anda mempercayai Tuhan dan anda menyakini bahwa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah yang terakhir. Semua orang dilahirkan Muslim dan anda mengikuti jalan anda dan kemudian anda kembali semula ke pangkuan Islam. Dan anda hanya mempercayai keesaan Tuhan. Pria ini membantu saya untuk menyebutnya dalam bahasa Arab dan saya ingat bahwa saya menurutinya. Saya tidak merasakan apa-apa saat itu, saya hanya mengikutinya dan kemudian kami menyebutnya dalam bahasa Inggris dan kemudian dalam bahasa Arab. Kemudian kedua teman saya memeluk saya dengan senyuman lebar.
 
Adalah menarik pada ketika itu, saya masih ingat saya berjalan pulang ke rumah sakit dan ketika saya menaiki tangga, bunyi di sekitar saya agak aneh, tetapi itu hanya jelas sekali di dalam kepala saya. Saya masih ingat saya sedang berjalan ketika orang-orang ini mengucapkan selamat kepada saya dan rekan sekerja menyalami saya. Saya seperti tidak dapat mendengar mereka. Suara mereka seperti telah di kecilkan. Sungguh aneh. Tetapi volume dalam diri saya sepertinya telah dibesarkan. Seperti ada seseorang yang mencampur adukkan kualitas bunyi antara dalam dan luar diri saya. Saya sedang bercakap tetapi suara tersebut seperti menjadi kuat sekali.
 
Saya menjadi bimbang, saya seolah-olah tidak merasa sedih, tidak merasa senang, tidak seperti dulu. Maka saya meninggalkan mereka dan pergi ke kamar mandi. Saya menguncikan pintu dan berdiri di hadapan cermin, suara tersebut terasa semakin kuat dan perasaan juga menjadi kuat. Macam ceret yang sedang mendidih dan anda tahu seperti ada yang akan meledak. Saya berada berdekatan dengan tempat cuci piring, menyiram wajah saya dengan air dan saya berpikir, "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Apa yang saya ingat ialah saya terus saja menangis."
 
Saya menangis terus-terusan dan ketika saya melihat ke cermin, saya masih menangis dan menangis kuat sehingga saya tertawa karena saya tidak paham mengapa harus saya menangis. Saya mula tertawa dan menangis pada masa yang sama. Andai saja ada orang yang melihat saya ketika ini? Macam ada satu ledakan besar keluar dari dalam diri saya. Kemudian ia berhenti. Saya melihat dan merenung diri saya. "Apa sudah terjadi barusan?" Pada ketika itu terasa sebuah kedamaian menyapa diri. Itulah caranya saya menjelaskan kedamaian di mana-mana dan seperti tidak benar. Saya tidak pernah merasakannya.
 
Dan tidak pernah lagi saya merasa kedamaian sedemikian rupa. Tetapi ia tetap bersama saya. Sejak hari itu saya merasakan perasaan ini bahwa ia merupakan perasaan yang lain buat saya. Sejak hari itu kehidupan saya berubah. Dan saya tidak pernah menoleh ke belakang.
 
Saya masih merasa aneh bercerita mengenainya. Tetapi ia merupakan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Inilah yang saya senangi tentang detik-detik spiritual. Tidak ada seorang saintis pun yang bisa mengukurnya. Ada sesuatu antara anda dan Tuhan dan jika orang mempercayainya, mereka akan mempercayainya. Jika tidak, mereka tidak akan menyakininya. Jika mereka mengalaminya, itu sudah menakjubkan. Itulah yang saya ingini. 

(IRIB Indonesia/onislam.net)

Jessica: Islam Sesuatu yang Berharga dan Tak Dapat Diungkapkan dengan Lisan

Pada usia 13 tahun, saya dikelilingi oleh Islam dan umat Islam. Mereka adalah orang-orang yang paling menakjubkan yang pernah saya temui. Mereka adalah orang-orang baik, dermawan terhadap orang lain, rendah hati dan menyambut baik tamu.
 
Famili saya membesarkan saya, adik perempuan, dan adik lelaki saya untuk lebih menyadari akan dunia ini, manusia yang tinggal di muka bumi ini dan segala yang ada di alam raya ini. Kami menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan. Kami senantiasa mendapat sedikit pelajaran darinya. Pelajaran yang kami dapatkan  bukan sekadar pendidikan. Maksud saya sebuah perjalanan yang memiliki kegembiraan. Perjalanan ini juga mengandung pendidikan dan pelajaran dimana kami berada, termasuk budaya dan sejarah tempat tersebut.
 
Kami pindah ke Riyadh, di Arab Saudi pada tahun 1980. Ayah saya adalah seorang pakar bedah onkologi. Ia direkrut bekerja di Rumah Sakit Spesialis Raja Faisal. Kami tinggal di sana lebih kurang 3 setengah tahun.
 
Rumah sakit itu dikelilingi oleh 4 masjid, maka kami sering kali mendengar azan dikumandangkan. Mungkin saja saya tertarik pada Islam ketika mendengar suara indah al-Quran. Sejak itu saya sering merasakan seperti ada keterikatan walaupun saya tidak memahami bahasa arab saat itu. Saya dapati suara al-Quran memenuhi ruangan hati saya dan ia tidak pernah meninggalkan saya sejak usia saya 13 tahun.
 
Mengucap syahadah di Dubai
28 tahun kemudian saya memeluk agama Islam, itupun karena saya kembali ke Timur Tengah. Kira-kira setahun yang lalu, saya pindah ke Dubai, saya memutuskan untuk melihat sesuatu. Saya mendapat sebuah al-Quran dengan bahasa latin. Saya mula membacanya dan setiap hari saya menghabiskan waktu melihat berbagai bagian darinya. Bukan berarti saya mulai membaca dari awal hingga akhir, saya hanya membuka beberapa halaman dan menghabiskan waktu membacanya serta memproses informasi yang bisa saya peroleh darinya.
 
Sehingga saya sampai ke satu tahap, dimana saya merasakan Islam benar-benar untuk saya, seperti perkara memiliki keimanan dan menunaikan shalat, serta memberikan sedekah pada orang lain dan mempercayai firman Allah. Semuanya masuk akal.
 
Pada bulan Mei, saya memilih untuk mengucapkan syahadah. Itulah masa penting dalam kehidupan saya setelah melakukan penelitian untuk beberapa waktu. Saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang besar. Sebuah jalan dalam kehidupan dimana saya sudah bersedia untuk menghadapinya. Saya dapat merasakan bahwa ini akan memberikan level kebahagiaan dan pengisian yang lebih besar dalam kehidupan saya. Saya merasa sedikit kekosongan dan saya tahu bahwa inilah bagian yang hilang. Saya mengucapkan syahadah dengan penuh tekad untuk menjadikan Islam sebagai bagian hidup saya setiap hari.
 
Sebuah contoh terbesar Rasulullah akan berbagi rasa ialah memberi kasih sayang kepada individu dan berbagi kasih sayang dan pengetahuan dengan orang lain serta bersikap terbuka, penyayang, pemberi, serta memiliki kepercayaan dan berbagi dengan orang lain. Hal ini begitu penting sekali dan ini adalah sesuatu yang ingin saya beri pada yang lain.
 
Sebagai seorang saintis, saya bekerja dengan teknologi yang sesuai untuk kuda. Saya bertemu Saqr dan adik-adiknya; Mubarak dan Ayman. Saya merawat kuda-kuda mereka dan ini merupakan pengalaman yang besar. Saya turut menyertai mereka ke lomba kuda dan ini amat mengembirakan. Saya amat menyenangi kuda dan menikmati waktu dan peluang bertemu mereka. Mereka adalah orang-orang yang baik dan dermawan.
 
Kebaikan dan kedermawanan mereka amat menyenangkan. Saya tidak menyangka mereka akan memberi layanan baik kepada saya dan saya amat berterima kasih atas kebaikan dan kedermawanan mereka. Mereka merupakan bagian dari pengenalan saya untuk lebih mendalami Islam.
 
Melihat cara kehidupan mereka memberikan inspirasi dan ini membuat saya terus bergerak ke depan dan melakukan pembacaan.
 
Saya tahu bahwa pada tahap ini, masih banyak sekali yang harus saya pelajari. Anda tahu, bahwa ini hanyalah sebuah proses yang akan mengambil waktu dan mendapatkan dukungan serta bimbingan dari umat Islam yang berada disekitar saya. Saya juga menemui mereka-mereka yang baru memeluk Islam. Mendengar kisah-kisah menarik mereka, memberikan saya dorongan dan itulah yang membawa saya ke tempat saya berada hari ini.
 
Harus saya katakan bahwa inimerupakan pengalaman terbaik dalam kehidupan. Ditambah pula memiliki anak-anak yang berharga, ini merupakan pengalaman dan keputusan yang paling bermakna dalam kehidupan saya.
 
Saya kini dipenuhi dengan rasa bahagia dan tenang. Mengetahui manfaat Islam dan ini sungguh menakjubkan ketika kita dapat berhubung langsung dengan sang Pencipta dan mengetahui betapa banyak Allah menaburkan cinta kepada setiap seorang dari kita.
 
Ini sungguh berharga…
 
Sungguh berharga… Diluar batasan yang dapat diungkapkan oleh kata-kata. 

(IRIB Indonesia / onislam.net)

Danish louise: Setengah Tahun Pertama, Saya Puasa Tapi Tidak Shalat

Nama saya ialah Louise. Saya telah memeluk Islam satu setengah tahun. Saya berasal dari Denmark. Dulunya saya dibesarkan dalam keluarga Kristen dari Gereja Lutheran. Mungkin saya merupakan seorang dari anggota keluarga yang begitu religius. Ketika saya remaja, saya ke gereja dan melakukan seperti apa yang remaja lain lakukan, ibu saya mengidap kanker.
 
Saya masih ingat, saya berdoa untuk ibu saya. Tetapi itu tidak membantu. Saya kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Saya memikirkan mengapa Tuhan tidak membantu saya? Saya tidak lagi mempercayai kewujudan Tuhan, dan seterusnya saya berhenti melakukan segala amalan atau mempraktikkan ajaran agama. Ketika itu saya punya banyak teman Muslim dan juga Kristen. Saya sering berbincang dengan banyak orang dari mana saja.
 
Dan terkadang saya mendengar tentang Islam yang saya dapati benar. Ia kelihatan masuk akal sekali. Kemudian, saya belajar agama di sekolah, agama Islam, kristen dan Budha dan sebagainya untuk melihat agama mana yang sesuai bagi saya. Saya tidak berpikir untuk mengubah agama, hanya sekadar untuk mencari maksud dalam kehidupan. Saya juga tidak bercerita dengan seorangpun mengenai apa yang saya rasa.
 
Kini, ketika saya merenung kembali apa yang terjadi, saya dapati Kristen tidak masuk akal buat saya tidak seperti yang saya dapati dalam Islam. Saya mendapati Islam mudah untuk dipelajari, masuk akal dan begitu banyak sekali perkara indah yang saya dapati dalam Islam. Ia tidak sekadar sebagai sebuah agama yang baik. Pada mulanya saya merasa takut dengan Islam, seperti kebanyakan orang lain, dalam satu bentuk. Saya pikir Muslimah menderita dan tidak sama kedudukannya dengan kaum lelaki seperti yang dipikirkan oleh mayoritas non Muslim.
 
Maka saya juga berpikir banyak hal tidak baik mengenai Islam, tetapi semakin saya mempelajarinya, saya dapati tidak ada perkara yang tidak baik dalam Islam. Saya hanya menemukan hal-hal yang indah. Kemudian saya bertemu dengan seorang Arab-Amerika.Saya jatuh cinta dengannya. Inilah dia, suratan takdir telah menemukan saya dengannya. Saya dapat merasakan Allah Swt ingin saya menjadi Muslim.
 
Sebenarnya saya tidak tahu apa sebabnya, saya sekadar dapat merasakannya. Saya menjadi Muslimah dengan segera. Jalinan hubungan kami tidak berlanjut, dan tidak seperti yang dipikirkan orang lain bahwa Muslimah tidak bisa meninggalkan suami mereka, itu adalah tidak benar, saya melakukannya!
 
Untuk setengah tahun pertama atau mungkin hampir setahun ketika saya memeluk agama Islam, saya tidak mengamalkan Islam. Saya berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi saya tidak menunaikan shalat. Saya tidak tahu bagaimana menunaikan shalat karena anda harus melakukannya dalam bahasa Arab.
 
Saya tidak mungkin sama sekali memakai hijab!
Sebenarnya banyak sekali perkara yang tidak saya ketahui. Saya tidak mengenakan hijab. Saya tidak menutup kepala saya. Saya meneruskan kehidupan seperti sebelum saya memeluk agama Islam, kecuali saya tidak minum alkohol dan makan babi. Adalah mudah untuk saya tidak minum dan makan babi, tetapi sulit untuk saya mengenakan hijab dan menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.
 
Untuk beberapa waktu, saya membaca lebih banyak tentang Islam. Menerusi pembacaan, banyak informasi yang yang saya peroleh. Saya mendapati terdapat mazhab yang berbeda dalam Islam seperti Sunni dan Syiah dan sebagainya, ini banyak membantu saya. Saya mula berpikir untuk mengenakan hijab, tetapi hati saya masih berat. Sudah pasti keluarga saya tidak menyenanginya.
 
Keluarga saya bertanya ketika saya memeluk Islam, "Engkau pasti mengenakan hijab ketika keluar dari rumah".
 
Saya menjawab, "Tidak mungkin, saya tidak mungkin melakukannya."
 
Pada waktu itu saya tidak merasa perlu mengenakan hijab, tetapi semakin saya mencintai Islam, semakin timbul minat untuk mengenakan hijab. Ini merupakan satu perkara yang benar.
 
Saya memikirkan bahwa saya harus mengenakan hijab selama 6 bulan setiap hari. Pada bulan Ramadhan 2007, saya mula memakai kerudung, alhamdulillah. Saya merasa bimbang karena banyak orang takut dengan orang Islam terutama selepas peristiwa 9 september, tetapi saya meminta Tuhan membantu saya. Saya memohon kepada Allah untuk menjadikan ia mudah bagi saya. Alhamdulillah, semua orang menerima saya. Saya pikir itulah yang baik tentang Amerika. Apa yang saya alami sejauh ini, mereka adalah orang yang berpikiran terbuka.
 
Saya menghadapi masalah saat memeluk Islam dengan keluarga saya. Pada mulanya mereka terkejut ketika mendengar saya akan memeluk agama Islam. Mereka berusaha supaya saya mengubah pendirian saya. Mereka memanggil saya dengan kata-kata kasar, kecuali ayah saya yang bersikap tenang dan santai menyikapi pendirian saya.
 
Masih ada saudara perempuan saya yang masih tidak dapat menerima keislaman saya. Tetapi anggota keluarga yang lain menerima saya. Mereka tidak lagi menghidangkan babi ketika saya mengunjungi rumah mereka dan semuanya berjalan baik. Ini memudahkan saya menjalani kehidupan, alhamdulillah. (IRIB Indonesia/onislam.net)